Perluas Pasar, Jamu Iboe Garap Rumah Sakit

Pengunjung RS menikmati minuman jamu.

SURABAYA - PT Jamu Iboe Jaya saat ini gencar membuka outlet di rumah sakit (RS). Terbaru, produsen jamu itu membuka outlet bernama Iboe Herbal Bar di RSUD Sidoarjo. Sebelumnya, outlet Iboe Herbal Bar sudah ada di RSUD Saiful Anwar, Malang dan RSUD Dr Soetomo, Surabaya.

Product Group Manager PT Jamu Iboe Jaya, Perry Anglishartono mengatakan, keberadaan outlet ini untuk menyasar pengunjung RS. Setidaknya, RS tersebut dikunjungi sebanyak 1.000 orang tiap harinya. Outlet ini juga sekaligus menyasar segmen anak muda. 

“Selama ini jamu kurang dikenal kalangan anak muda. Sehingga, penetrasi pasar jamu menjadi rendah. Untuk memperluas pasar, perseroan harus menyasar segmen baru agar jamu tetap bisa bertahan. Kalau dari sisi pendapatan, outlet di rumah sakit kontribusinya kecil. Tapi kami ingin memasyarakatkan jamu,” katanya dalam rilis, Selasa (2/10).

Selain menyasar RS, lanjut Perry, pihaknya juga berencana memperbanyak outlet di perguruan tinggi (PT). Saat ini, Jamu Iboe sudah memiliki outlet di Universitas Surabaya (Ubaya). Dalam waktu dekat, akan membuka satu lagi outlet di Universitas Kristen (UK) Petra. Secara total, outlet Jamu Iboe sebanyak 30 unit. Selain di Surabaya, outlet Jamu Iboe juga ada di Jakarta, Bali, Malang dan Medan. 

Saat ini perseroan memiliki 20 item produk minuman kesehatan atau natural drink. Komposisi penjualan produk Jamu Iboe, sekitar 60 persen jamu tradisional, jamu modern kapsul ekstrak 30 persen dan natural drink 10 persen. “Kami ingin minum jamu itu menjadi gaya hidup, seperti halnya orang minum kopi. Kalau jamu tidak menjadi gaya hidup, industri jamu akan mati,” katanya.

Perusahaan asal Surabaya itu tetap optimistis bisa tumbuh 12 persen, dia atas pertumbuhan jamu nasional 10 persen. Bulan lalu, pertumbuhan kinerja penjualan baru mencapai 5 persen. Sekitar 90 persen pasar Jamu Iboe masih di pulau Jawa, di mana Jatim berkontribusi 75 persen. Sisanya menyebar, seperti di Kalimantan, Sulawesi hingga Papua. 

“Perusahaan jamu itu menghadapi banyak tantangan. Di antaranya, minum jamu dianggap kuno. Ini yang membuat regenerasi terhambat. Diperparah dengan sosialisasi pemerintah tentang manfaat minum jamu yang kurang. Regulasi terhadap perusahaan jamu juga semakin ketat,” kata Perry. (*/hap)