Esek-Esek Stasiun Wonokromo (2): Siang Jaring Penumpang Kereta, Malam Jaring Penumpang...

Situasi perlintasana rel KA Stasiun Wonokromo pada malam hari.

Dunia remang-remang di Stasiun Kereta Api (KA) Wonokromo, mengundang  pihak lain untuk bisa mencecap tetesan rejeki di sana. Tak heran, kehidupan malam di sana begitu marak dengan  segala warnanya. 

Di sana ada orang menawarkan jasa pijat tradisional. Bermodal spanduk untuk alas pijat, minyak urut, hand body, sudah bisa menghasilkan rupiah.

Jika masyarakat awam berkunjung atau mempunyai keinginan relaksasi tubuh dengan pijat tradisional tersebut. Pasti tidak akan kesulitan menemuinya. Sebab,  para jasa pijat tersebut melayani pelanggannya di ruang terbuka tanpa ada penutup atau bilik-bilik tertentu. Lokasinya di sebelah timur rel kereta api.

"Setiap jasa pijat pasti mempunyai papan nama di masing-masing tempat dan namanya berbeda," kata Maryono di warung sekitar panti pijat.

Harga yang ditawarkan di masing-masing jasa pijat tradisional itu sama, sekitar Rp 50 ribu. Proses pijat itu dilakukan menyeluruh tubuh, mulai dari mata kaki hingga ubun rambut. "Pastinya punya keahlian masing-masing pemijat ini," terang dia.

Saat ditemui, salah satu pemijat yang enggan disebutkan namanya menerangkan, setiap hari beberapa masyarakat berkunjung untuk dipijat menghilangan capek. "Rata-rata per hari bisa memijat 3 hingga 6 orang. Tergantung bejonya kita (keuntungan red)," aku dia.

Selain itu, beberapa warga sekitar juga tak ingin melewatkan momen malam hari di perlintasan rel Wonokromo. Sebab, mereka memanfaatkan aktifitas pengunjung untuk membuka usaha warung berukuran 2 x 1 meter.

Mereka menjajahkan jajanan seperti warung pada umumnya. Seperti, kopi, minuman dingin, gorengan, rokok dan lainnya. Namun disayangkan beberapa pedagang kakiima (PKL) yang berjajar di tembok pembatas antara pemukiman padat penduduk dengan Stasiun Wonokromo ditemukan minuman beralkohon atau minuman keras (miras).

"Di sana  menjual miras. Namun, itu hanya diperjual belikan kepada pelaggan akrab. Sulit untuk orang yang tidak kenal," ungkap juru parkir di sekitar Pasar Maling Wonokromo kepada Memorandum.

Di lahan milik PT KAI Daop 8 ini juga jadi ajang judi. Terlihat belasan orang duduk  melingkar. Ada dua kelompok setiap malamnya. Alat judi yang digunakan berupa bola yang dilempar.  Sedangkan uang taruhannya berkisar Rp 5  ribu hingga Rp 100 ribu. Sebagai alat penerangan, mereka menggunakan lampu minyak. Mereka berjudi terang-terangan,  dan aman- aman.(alf/udi)