MUI Jatim: Kondisi Darurat Imunisasi Diperbolehkan

Ketua MUI Jatim Abdussomad Buchori

SURABAYA - Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan vaksin campak dan rubella atau MR yang digunakan untuk program imunisasi massal mengandung enzim babi, namun penggunaannya masih dibolehkan, sampai ditemukan vaksin lain yang halal. 

Ketua MUI Jatim Abdussomad Buchori menjelaskan, ketika itu dilakukan dengan kondisi darurat maka pihaknya memperbolehkan terkait imunisasi untuk menjaga kondisi kesehatan bagi generasi penerus. 

"Sebab, Imunisasi ini salah satu tindakan medis untuk mencegah terjangkitnya penyakit tertentu, artinya bermanfaat. Jadi atas dasar pertimbangan,  MUI mengeluarkan fatwa diperbolehkan dengan menggunakan vaksin tersebut, " katanya, Jumat (24/8) melalui via phone. 

 Sebab, waktu itu karena masyarakat menolak atau terjadi pro kontra dengan keberadaan vaksin itu, lantaran tidak ada kejelasan.

Dengan adanya vaksin MR baru sejak Agustus tahun 2018 ini terkait tidak ada kejelasan vaksin tersebut, sehingga terjadi pro kontra penolakan di kalangan masyarakat Jawa Timur. Lanjut Somad, sekarang ini ada kondisi keterpaksaan atau darurat, belum ada vaksin lain yang halal dan suci, serta ada bahaya jika tak melakukan imunisasi dengan MR.

"Meskipun Vaksin MR produk dari Serum Institute of India (SII) hukumnya haram karena dalam proses produksinya menggunakan bahan yang berasal dari babi, namun penggunaan vaksin tersebut dibolehkan," ungkapnya. 

Somad menambahkan, alasan mengapa MUI membolehkan vaksin MR digunakan untuk sementara. Yakni dikarenakan kondisi darurat, ditambah lagi sementara ini belum ditemukan vaksin MR yang halal dan suci. Dan juga ada keterangan dari ahli yang kompeten dan dipercaya tentang bahaya yang ditimbulkan akibat tidak diimunisasi vaksin MR.

"Kebolehan penggunaan vaksin MR ini di bolehkan sementara sebagaimana dimaksud sebelum ditemukan adanya vaksin yang halal dan suci," pungkasnya.(x/yok)