Pengakuan dr Bagoes Saksi Kunci Korupsi P2SEM (2): Ditawari Anggota Dewan Carikan Lembaga 

Di luar banyak yang menuduh dr Bagoes merupakan otak dan pelaku utama skandal bancakan uang negara Rp 277 miliar APBD Provinsi Jawa Timur melalui program P2SEM. Bagoes menolak tuduhan itu dan siap blak-blakan demi rasa keadilan. 

Dari obrolan ringan di kursi depan ruang KPLP di Lapas Klas I Surabaya di Porong oleh sipir, kami dan dr Bagoes yang mempunyai nama lengkap Bagoes Soecipto S. SPJP tersebut diarahkan ke ruang tunggu registrasi yang ada di sebelah ruang KPLP. Tempatnya lebih luas dan nyaman, karena tidak banyak orang yang lalu lalang. Apalagi sekitar jam 11.00 ada pendataan beberapa warga binaan yang baru datang.

Kami lalu pindah di ruang sebelah dan kembali melanjutkan perbincangan. Sepertinya dr Bagoes benar-benar ingin mengungkap kejadian yang sebenarnya terkait kasus P2SEM di era Gubernur Imam Utomo. Selain itu, Bagoes juga ingin mendapatkan keadilan dan siapa saja yang makan lebih banyak uang negara itu harus ikut dihukum.

Selama ini banyak yang menuduh dr Bagoes merupakan otak dan pelaku utama dari permasalahan ini. Buktinya, dia sempat 'kabur' ke luar negeri (Malaysia) meski akhirnya ditangkap  petugas Kepolisian Diraja Malaysia dan dijebloskan penjara. Bahkan, Bagoes divonis 28 tahun, 6 bulan. Jika kita hitung, Bagoes yang kini berusia 50 tahun, bakal bebas di usia 78 tahun lebih.

Itu pun jika tidak ada remisi, grasi dan potongan lain termasuk upaya dia mengajukan keringanan dalam bentuk peninjauan kembali (PK). Saat menemui kami, dr Bagoes sudah membawa lembaran kertas sebanyak sembilan lembar berisi kronologis kejadian yang masih diingatnya. Ketikan ini juga sudah diberikan kepada penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim ketika dirinya diperiksa beberapa waktu lalu. Lembaran itu berisikan memori yang diketik rapi dalam sembilan halaman.

Kami juga diberi tujuh lembar kertas HVS kosong yang mungkin dianggap dr Bagoes untuk dipakai mencatat hal penting yang akan dikorankan nantinya. “Ini kami siapkan untuk jenengan. Semua berdasarkan memori yang masih menempel di otak saya di kasus P2SEM,” ungkapnya sembari menyerahkan lembaran tersebut.

Dr Bagoes mengawali ceritanya tidak jauh berbeda dengan apa yang sudah diketiknya. Mulai bagaimana seorang dokter spesialis jantung di RSUD dr Soetomo yang awam dengan masalah administrasi dengan segala tetek bengek ke dewanan itu, tiba-tiba diajak kerjasama hingga mengenal sejumlah anggota DPRD Jatim.

Seingatnya, sekitar September 2008 dirinya kali pertama ditawari untuk mencarikan lembaga-lembaga untuk menyalurkan dana bagi masyarakat. Karena memang buta dengan hal yang baru tersebut, atas permintaan Suhartono (almarhum, dari Fraksi Demokrat) yang juga pasiennya di RSUD dr Soetomo, dr Bagoes yang berlatar belakang akademisi mencoba membantunya.

Salah satunya penyaluran dana dewan yang membuat Suhartono kebingungan untuk menghabiskan. Selain Suhartono, dr Bagoes akhirnya mengenal wakil DPRD Jatim, Widodo (Fraksi PDI-P). Memang ada ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dari mereka terkait lembaga yang dimaksud. Misalnya lembaga itu harus berupa universitas, institut, akademi, dan LSM (lembaga swadaya masyarakat).

Termasuk lembaga hanya menggunakan 30 persen dana yang dicairkan. Sisanya masuk ke anggota DPRD Jatim.  Memang dari awal, lembaga yang akan mengajukan proposal sudah harus menyepakati. Jika nantinya dana dicairkan maka akan lebih kecil dari yang tercantum di proposal. Karena tidak memunyai pengalaman kegiatan-kegiatan pelatihan dan kenalan di lembaga, maka dr Bagoes meminta tolong ke rekan akademisinya yang kemungkinan punya kenalan dengan lembaga tersebut.

“Awalnya yang saya tawari untuk mencarikan lembaga di antaranya Edy, Kurniawan, Amirullah, dan Faried. Dari sana akhirnya selain Suhartono dan Widodo, para anggota dewan lain ikut menghubungi,” kata dr Bagoes. 

Satu per satu anggota DPRD Jatim lalu menghubungi dr Bagoes untuk dicarikan lembaga-lembaga bagi dana mereka. Mereka menawarkan dana ratusan juta hingga miliaran rupiah untuk pelatihan bagi lembaga. Namun, dana yang dicairkan nanti akan menerima 30 persen saja, tidak boleh lebih.

Seingat dan dituangan di lembaran yang ditulis dr  Bagoes, untuk politisi Suhartono dan Widodo akan memberikan dana sebesar Rp 1,5 miliar. Berturut-turut, Arief Djunaedi (PKB) senilai Rp 3,5 miliar; Suhandoyo (PDI-P) Rp 3,5  miliar; Gatot Sudjito (Golkar) Rp 3,5 miliar; Ahmad Subhan (PKS) Rp 2,75 miliar; Harbiah (Golkar) Rp 2,5 miliar; Ahmad Sufiyajie (PKB) Rp 1 miliar; Musyaffa M Noer (PPP) Rp 200 juta dan Lambertus (Golkar) Rp 1 miliar.

Kemudian politisi PKB, Cholili Mugi Rp 500 juta; Jafar Sodiq (PKB) Rp 500 juta; Maskur Hasjim (PPP) Rp 1 miliar; Syahri Mulyo (PDI-P) Rp 500 juta); Faried (PPP) Rp 1 miliar; Sudono Sueb (PAN) Rp 1,5 miliar dan Islan (PDI-P) Rp 1,5 miliar. Karena banyaknya permintaan bantuan dari legislator yang ada di Jalan Indrapura, Surabaya tersebut, dr Bagoes lalu menanyakan kepada temannya yang direkrut kali pertama. Seperti Kurniawan Hidayat yang juga mengajak temannya, Rudy dan Eddy. Mereka pun mengajak Holidin. 

Dokter Bagus kjemudian teringat dr Komang Ivan Bernawan, yang sebelumnya pernah mengatakan kalau ada job sewaktu-waktu dapat menghubungi dirinya. Dengan bergabungnya rekan seprofesi itu dr Bagoes berharap bisa membantu pendapatan tambahan dr Komang Ivan.  Berapa pembagian persentase ke pelaksanaan dan ke kantong anggota dewan ? (bersambung)