Kasus Dana Hibah Jasmas: Warga Penerima Kaget Diperiksa Kejaksaan

SURABAYA - Dugaan penyimpangan dana hibah jaring aspirasi masyarakat (jasmas) mendapat perhatian para penerima program tersebut, yakni para RT yang tersebar di Surabaya. Sebab, proposal yang diajukan sesuai pengajuan.

Menurut Agus Sucipto, Ketua RT 07/RW 08 Kelurahan Sawunggaling, Kecamatan Wonokromo, tak menyangka jika ada beberapa anggota DRPD Surabaya diperiksa Kejaksaan Negri (Kejari) Tanjung Perak terkait jasmas.

"Dua bulan lalu saya juga diperiksa Kejari Tanjung Perak sebagai saksi. Dalam pemeriksaan saya ceritakan apa yang saya terima dan saya ketahui,” akunya.

Masih kata Cipto sapaan akrabnya, pihaknya mengajukan proposal pada 2015. Dan baru cair pada 2016. “Dulu mengajukan 2 tenda ukuran 4 x 6, meja 50 unit, kursi 150 unit, sound system 1 paket, dan tambahan 3 penerangan (lampu),” aku dia.

Di wilayah RW 07 Sawunggaling secara keseluruhan berjumlah 9 RT. Namun hanya RT 6 dengan RT 7 saja yang mengajukan dan sudah terlaksana semua. “Proposal yang diajukan kedua RT tersbut disetujui dan sudah cair,” jelas Cipto.

Sementara itu, di wilayah penerima jasmas lainnya juga sama. Seperti yang diungkapkan salah seorang staf RT 07/RW3 Putat Jaya, Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan. Dirinya mengajukan jasmas bermula dari anggota DPRD Kota Surabaya. Para wakil rakyat ini mempromosikan program sarana dan prasarana.

“Karena di kampung kami belum pernah mendapatkan program pengadaan tersebut. Kita disuruh membuat proposal. Lalu kami ajukan ke dewan pada 2015 dan disetujui 2016 akhir .

Dulu waktu pengecekan laporan pertanggung jawaban (LPj) pihak pemkot, kecamatan dan kelurahan menyurvei penerima jasmas. Hal itu dilakukan apakah sudah sesuai dengan apa yang diajukan.

“Kami dulu mengajukan meja plat 20 unit, terop ukuran 3 x 6, kursi plastik 150 unit, sound system 1 set, lampu 2 set. Saya juga kaget, sebab kami tidak memikir hingga terjadi seperti sekarang ini. Bagi kami yang penting sama dengan pengajuan,” ucap dia. (alf/lis)