Harga Telur Meroket, Satgas Pangan Polda Jatim Buru Aktornya 

Petugas Satgas Pangan Polda Jatim mendatangi beberapa sentra telur.

SURABAYA - Kenaikan harga telur dan daging ayam yang kian menggila di pasaran membuat aparat kepolisian geram. Bahkan Satgas Pangan di sejumlah daerah, seperti di wilayah Jawa Timur langsung bergerak mencari penyebab dan akan menindak tegas bila ditemukan pelanggaran.

Terbaru, Rabu (18/7), Polda Jatim menurunkan satu tim di bawah kendali Subdit I/Tipid Indagsi Ditreskrimsus. Tim yang terdiri dari beberapa orang tersebut langsung turun ke sejumlah sentra produsen telur dan daging ayam di Jatim.

Kasubdit I/Tipid Indagsi AKBP Rama Samtana Putra mendampingi Direskrimsus Kombespol Agus Santoso menegaskan bila semenjak kenaikan harga telur dan daging ayam, anggotanya telah di sebar ke sejumlah daerah. 

“Kami telah menurunkan tim khusus (timsus) untuk mengecek ke lapangan, khususnya di sentra telur dan daging ayam di Blitar dan Tulungagung,” tegasnya. Dikatakan, tim yang dipimpin Kompol Ernesto Saiser itu bahkan tak hanya datang ke sentra telur, namun juga menyusuri rantai perdagangan telur hingga sampai ke tangan konsumennya. “Kami akan tindak tegas bila ditemukan aktor yang main-main dibalik kenaikan telur,” imbuhnya.

Untuk itu pihaknya juga telah melakukan koordinasi dengan Disperindag hingga Dinas Pertanian, serta Peternakan Provinsi Jatim. “Menyikapi fenomena ini kita (Satgas Pangan, red) juga telah berkomunikasi dengan dinas terkait,” kata Rama.

Dalam hal ini pihaknya telah berkoordinasi dengan Plt Kadisperindag Sudrajat. Dari sana terungkap jika penyebab kenaikan telur ada beberapa rantai distribusi. Sesampai pedagang terakhir iru rantai distribusinya terlalu banyak. “Sehingga dari satu ke dua dan seterusnya naik dan sampai ke harga pedagang,” katanya. Persoalannya, hampir 70 persen masyarakat membeli telor ke pedagang. 
“Sedangkan kalau untuk penimbunan masih coba didalami karena pada prinsipnya telur tak butuh waktu lama untuk rusak,” ungkapnya. Hanya saja, untuk dugaan penimbunan tetap akan dicek oleh Satgas Pangan. “Apakah di sana ada pelaku yang berbuat culas,” tambah Rama.

Berdasar instruksi dari Kasatgas Pangan Pusat yang diketuai Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto agar dilakukan penyelidikan secara intensif dan pengecekan rantai distribusi. Yang dilakukan saat ini juga dengan menggali data awal sentra telur di Jatim. Juga melihat sistem harga online bahan pokok guna dicari harga terendah dan tertingginya.

Sehingga nantinya bisa ditemukan di rantai yang ke berapa yang menjadi penyebab kenaikan telur itu. “Nantinya akan kita analisa yang mengambil margin keuntungan paling besar siapa. Mereka mencari keuntungan di tengah kesulitan masyarakat selaku konsumen telur,” pungkas Rama. 

Seperti diketahui, harga telur ayam terpantau merangkak naik setelah Hari Raya Idul Fitri 2018. Harga telur ayam di sejumlah pasar tradisional di beberapa daerah naik di kisaran Rp 28 ribu hingga bahkan sampai Rp 32 ribu per kilogram.

Komisi B Identifikasi Penyebabnya 
Komisi B DPRD Jatim memastikan segera turun untuk membantu persoalan pokok masyarakat, terkait mahalnya harga telur ayam. Komisi yang membidangi perekonomian ini, melakukan sejumlah pendekatan, mulai dari mahalnya harga pakan, hingga muncul dugaan adanya kartel yang ikut mempermainkan harga telur. 

“Kita (komisi B) masih melakukan identifikasi, apa penyebab mahalnya harga telur,” terang Zainul  Lutfi anggota Fraksi PAN yang duduk di Komisi B DPRD Jatim, Rabu (18/7).

Indikator penyebab kenaikan harga telur, lanjut politisi asal Tanggulangin Sidoarjo tersebut sangat penting. Apalagi mahalnya harga telur ayam, mulai menganggu konsumen terkait kebutuhan konsusmsi. 

“Berkaitan dengan perlindungan konsumen dengan konsumsi, termasuk bahan pokok di bawah bulog. Apa penyebabnya kami masih mengidentifikasi , bagaimana solusi dan komitmennya seperti apa. Kita koordinasi dengan Dispertinmdak dan Peternakan Provinsi Jatim,” kata dia.

Sebelumnya Gubernur Soekarwo, menyampaikan kenaikan harga telur menjadi perhatian Pemprov Jawa Timur. Gubernur Soekarwo menjelaskan naiknya harga telur di beberapa pasar sepekan terakhir disebabkan, karena adanya kenaikan harga pakan ternak, yang harus impor dari Thailand. 

Kenaikan harga tersebut menyebabkan ongkos produksi naik yang berdampak pada naiknya harga telur. “Dampak dari kenaikan harga pakan tersebut membuat biaya produksi tinggi, sehingga produsen telur menaikkan harganya,” katanya. (yok/day/lis)