Puasa Para Tokoh: Melatih Menahan Emosi 

Hayono Isman

DI bulan penuh berkah ini tentunya kita dituntun untuk dapat berbagi dengan masyarakat. Khususnya yang kurang mampu terutama dengan anak yatim. Jadi secara agama maupun secara emosi pribadi, ini yang menegakkan kita sebagai umat muslim di keluarga besar Hayono Isman. 

Di Ramadan ini selama kita menjalani penuh hikmah dan melatih emosi terbukti efektif mampu menekan permasalahan yang dihadapi sehari-hari. “Seperti saya, istri dan anak-anak pasti dalam kehidupan sehari-harinya banyak godaan di dalam kehidupan,” kata Hayono  

Yang pasti ada gesekan-gesekan, tidak hanya di sesama antarkeluarga, bisa juga antara keluarga dengan pembantu, keluarga dengan masyarakat lingkungan, dan kita dengan organisasi partai politik pasti tentu juga ada gesekan-gesekan.

“Maka dari itu, apabila kita tidak dibentengi iman yang kuat dan tidak dilatih menahan emosi, kita yang pasti mudah meledak,” tutur mantan Menteri Pemuda dan Olahraga RI itu. 

Salah satu nilai yang diperoleh dalam beribadah di bulan suci ini, kita lebih merasa dekat dengan Allah SWT. Itu yang paling mengena dirasakan saat ini. “Karena di puasa ini kita menahan lapar yang sebetulnya tidak terlalu lapar. Sebab setelah berbuka puasa justru makan saya lebih sedikit. Menurut saya yang paling menarik itu kita merasa dekat dengan Allah SWT,” imbuh Hayono Isman yang merupakan salah satu tokoh pemuda di era orde baru.

Hikmah puasa yang dapat diambil dirinya dan keluarga, yakni nikmat kalau dirinya bisa berdiskusi dengan siapa pun, khususnya anak-anak muda. Karena melalui berbicara, badan ini tidak hanya mensyukuri nikmat sebelum kita melakukan puasa. 

Akan tetapi juga yang paling penting, tambahnya, nikmat puasa itu jika kita bisa lebih mengedepankan Islam yang merupakan agama Rahmatan Lil Alamin. Sebab, agama Islam kita ini merupakan agama damai, agama bertoleransi untuk kita semua. Hayono menjelaskan kebenaran itu dibuktikan dengan wali songo ketika memasukkan agama Islam dengan cara-cara yang damai dan menghormati tradisi budaya yang sudah terlebih dahulu ada di masyarakat.

“Tidak menghilangkan jati diri masyarakat itu sendiri, sehingga Islam di Indonesia berbeda dengan Islam di Timur Tengah, dan juga Islam di negara-negara lain, karena keterkaitan budayanya itu tinggi,” imbuhnya 

Kenapa demikian, Hayono Isman yang keluarga besarnya memiliki Hotel Elmi itu mengatakan karena Islam masuk Indonesia dengan cara yang damai dengan menghormati budaya dan tradisi dari yang terdahulu. “Dengan demikian orang Islam juga tidak perlu takut untuk menerima budaya-budaya baru termasuk budaya di dalam rangka bagaimana kita meningkatkan budaya produktivitas di Indonesia,” tutupnya. (yy/asw/nov)

 

  • 10 TERPOPULER
  • 10 TERBARU