Tingkah Polah ABG Tua Zaman Now (2): Manjah-Manjah Mendesyah, Maju Syantik Mundur Syantik

Yuli Setyo Budi, Surabaya

Puri masih ingat perselingkuhan pertama yang dijalaninya dulu, awal-awal dia diangkat menjadi pemimpin perusahaan di tempatnya bekerja. Sebagai perayaan atas karunia tadi, Puri mengajak seorang teman—yang dulu pernah sama-sama menjabat manajer, sebut saja Heri—dugem.

Mereka berniat bakal menghabiskan malam di tempat hiburan kawasan Tunjungan. Ada club berkelas di sana, walau lokasinya tersembunyi di antara lahan-lahan parkir.

Namun sebelum menuju titik tersebut, keduanya makan malam di sentra kuliner kawasan Urip Sumoharjo. Tidak disangka, mereka bertemu seorang perempuan cantik bernama Nining (samaran). 

Tak hanya cantik, Nining memiliki fresh body yang wow. Ini terlihat dari lekukan-lekukan tubuhnya yang dibalut baju warna kuning menyala. Ketat, padat, dan memikat. 

Caranya duduk dan mengambil minuman sangat elegan. Seperti putri-putri raja di Inggris atau selebriti papan atas Hollywood. Jauh dari gaya pejabat negeri kita yang norak atau selebriti Bollywood yang sangat kampugan. Njelehi.

“Ternyata dia kenal teman saya, Heri. Dialah yang memerkenalkan kami,” kata Puri.

Sambil makan, mereka terlibat pembicaraan dan senda gurau. Saat itulah Nining menawari Puri menjadi nasabah asuransi di tempat dia bekerja. Puri menanggapi dengan ogah-ogahan. Dia berdalih lebih menguntungkan menabung di bank ketimbang ikut asuransi.

“Intinya, malam itu aku bisa lepas dari teror ajakan untuk jadi nasabah asuransi,” kata Puri, lantas tersenyum. Dia menganggap ajakan itu sebagai teror, karena Nining mendesaknya tanpa kenal lelah, seperti Tyson menghajar lawannya di sudut ring. 

Setelah itu, Nining terus mengejarnya melalui telepon. Tiada hari berlalu tanpa gangguan telepon dari Nining. Saking intensnya usaha Nining, Puri pun menyerah. Hubungan mereka bahkan berbalik menjadi pertemanan.

Percakapan pun mulai membelok ke kanan dan ke kiri. Mulai menyerempet tebing-tebing terjal dan menyisir pinggiran jurang yang curam. Berbahaya. Badai di depan mata menjelma seperti gerimis di tengah sahara. Api yang membakar terasa bak embusan udara pegunungan.

Pria bertubuh tinggi-besar—dan lumayan ganteng—ini bahkan mulai berani menggoda Nining. “Aku bertanya kepadanya, ‘Dikasih bonus apa sih kalau aku ikut asuransi?’ Mau tahu jawaban dia?” cerita Puri.

Ternyata Nining menyatakan sanggup memberikan bonus apa saja, asalkan Puri bersedia menjadi nasabahnya. 

“Apa saja?” goda Puri.

“Apa saja!” jawab Nining, antusias.

“Kamar hotel?” desak Puri.

Nining terdiam. Hanya terdengar kresek-kresek di HP Puri. Cukup lama. Baru setelah Puri mengulangi pertanyaannya, Nining menjawab, “Ya, kamar hotel.”

“Lengkap dengan kuncinya?” tanya Puri.

Nining kembali diam. Suara kresek-kresek di HP Puri terdengar lebih lama.

“Ya, lengkap dengan kuncinya.’’

Tiba-tiba Nining memutuskan sambungan. Puri mencoba menghubungi Nining, tapi tidak ada nada sambung. Kondisi ini terjadi cukup lama. Keesokan harinya Puri masih belum berhasil menghubungi. Demikian pula hari berikut.

Setelah lewat tiga hari, Puri menanyakan keberadaan Nining kepada Heri, yang memiliki nama lengkap Heri Breng Os ini. Tapi bukannya menjawab, Heri malah tertawa terbahak-bahak di balik ujung lain telepon Puri.

“Aku sampai membayangkan kumis Heri yang mirip sapu ijuk itu menusuk-nusuk HP-nya,” kata Puri. 

“Halo,” desak Puri. Tapi, di ujung sana Heri makin terpingkal-pingkal. Puri seperti nggak direken blas. Secara samar dia malah mendengar suara perempuan. Manjah-manjah mendesyah, seperti maju syantik mundur syantik. Ah… (bersambung)