Tingkah Polah ABG Tua Zaman Now (1): Ingin Makan Sate tanpa Harus Menyembelih Kambing

Yuli Setyo Budi, Surabaya

Langit Surabaya yang cerah pada siang itu, Kamis (27/9), tidak memantul di wajah seorang lelaki, sebut saja Sampuri (41). Puri—panggilan Sampuri—tampak kusut dan kumuh. Sangat berbeda dengan perempuan di sampingnya yang cantik, bersih, dan cerah seperti bulan purnama.

“Jangan dilanjutkan ya Ma,” rajuk Puri kepada perempuan tadi, sebut saja Martha (37), istrinya.

“Aku sudah lelah, Pa. Sudah beberapa kali Papa berjanji tidak akan mengulangi lagi, tidak akan mengulangi lagi… Tapi apa yang terjadi? Prekethek, Papa selalu saja melanggar. Ini sudah kali yang keberapa, Pa? Aku lelah,”  tutur Martha lirih sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.

Percakapan di salah satu sudut ruang tunggu Pengadilan Agama (PA) Surabaya, Jalan Ketintang Madya, tadi mendadak terhenti setelah Martha menyadari bahwa Memorandum memerhatikan. Dia spontan berdiri menuju ruangan lain. “Tidak usah ikut,” katanya keras. Tegas. Puri yang kadung mengangkat pantat kembali mengempaskannya. 

“Kiamat. Benar-benar kiamat,” kata Puri seperti ditujukan kepada dirinya sendiri. Wajahnya yang semula kusut dan kumuh tampak semakin pekat. Seperti serpih-serpih malam dimakan gerhana.

“Istrinya, Mas?” tanya Memorandum membuka percakapan. Puri menatap mata Memorandum. Lekat dan lama, sebelum akhirnya mengangguk. “Bakal mantan. Bakal mantan istri, Mas.”

“Bakal mantan istri? Maksudnya?” Memorandum pura-pura tidak paham sambil menampakkan wajah penasaran.

“Ya, bakal mantan karena sekarang dia akan mengajukan gugatan cerai,” kata Puri pelan, lalu pelan-pelan pula menurunkan pandangan ke lantai.

“Sebenarnya aku yang salah, Mas. Sudah beberapa kali aku ketahuan selingkuh, tapi selalu mengulangi dan mengulangi lagi meski sudah berjanji bertobat. Aku yang salah, Mas,” imbuh Puri sambil memukul-mukul jidatnya sendiri. Tampaknya kali ini lelaki setengah-setengah—artinya setengah ngganteng sekaligus setengah gak ngganteng—itu betul-betul menyesali perbuatannya.

Tiba-tiba Puri menggeret tangan Memorandum, mengajak keluar gedung PA. “Aku stress, Mas. Ayo temani aku makan-makan di luar,” kata dia sambil nginclik berjalan tanpa menunggu persetujuan Memorandum.

Ternyata tujuan dia deretan warung dekat rel kereta api. Tempat itu lumayan sepi,  mungkin karena sudah lewat jam makan siang. Puri mengakui kedatangan dia di PA, siang itu, tanpa sepengetahuan Martha.

Dari rumah dia sengaja menguntit Martha karena takut ibu kedua anaknya tersebut mewujudkan ancamannya: menggugat cerai. Walau mengaku sudah beberapa kali mengkhianati Martha, Puri tidak ingin berpisah atau dipisahkan dari mantan finalis Cak dan Ning Surabaya itu.  

Puri sangat mencintainya. Notok. Njedug. Kalaupun dalam mengekspresikan cinta tadi, Puri masih menoleh ke kanan dan ke kiri, itu dia anggap sebagai naluriah seorang lelaki.

Prinsip Puri, dia hanya ingin menikmati sate tanpa harus menyembelih kambing. Ingin membeli baju tanpa harus mendirikan pabrik kain. Ingin minum kopi tanpa harus memiliki kebun kopi dan ladang tebu. Dll. Dsb. Dst.

“Aku hanya ingin menikmati hidup secara maksimal. Itu saja,” kata Puri tanpa merasa bersalah. Memorandum yang mendengar prinsip itu hanya bisa geleng-geleng. (bersambung)