Menyingkap Misteri Ayah Biologis Anak Sulung (4): Hanya Disisai Jasad tanpa Cinta pada Malam Pertama

Yuli Setyo Budi, Surabaya

Apa yang terjadi pada malam itu sama sekali tidak pernah Mandi pikirkan. Sudah lewat. Yang penting happy. Baru kali ini Mandi kepikiran: jangan-jangan pada waktu nggak sadar dulu dia berbuat intim dengan perempuan yang bukan istrinya. Dia tertukar pasangan dengan yang lain?!?! Bisa saja kan?!?!

Antara ingat dan tidak, ingat dan tidak, ingat dan tidak, yang jelas waktu itu Mandi memang merasa berhubungan intim. Dalam benaknya, itu pasti Indah, wong dalam rangka bulan madu kok.

Yang pasti dia ingat, pertempuran malam itu benar-benar super dahsyat. Ibarat singa padang pasir yang kejam dan ganas melawan gorila kutub yang tahan banting dan cengkeramannya melumatkan. Seru dan panas.

“Mungkin pengaruh makanan atau minuman yang kami konsumsi sebelumnya ya?” kata Mandi seperti bertanya kepada diri sendiri. Memorandum menanggapi hanya dengan senyum dan anggukan.

Bila dia memang tertukar pasangan saat berhubungan intim 17 tahun yang lalu, kemungkinan ayah biologis Dedi adalah 1 dibanding 99 laki-laki lain, karena peserta tur bulan madu waktu itu 100 pasangan.

Untuk mengawali pelacakannya kali ini, Mandi mencoba menghubungi teman yang di Singapura. Mandi ingin menanyakan nama travel yang diikutinya dulu. Tapi celaka, nomor telepon temannya tidak aktif. Dibuhungi beberapa kali, tetap tidak ada respons.

Mandi lantas menghubungi operator penyedia layanan nomor temannya. Dikatakan bahwa nomor tersebut sudah tidak aktif lebih dari setahun. Ada kemungkinan temannya tadi ganti nomor.

Akhirnya Mandi terpaksa berangkat ke Singapura. Tapi lagi-lagi apes, orang itu sudah pindah ke Amerika Serikat. Kabarnya dia mendapatkan tawaran kerja dengan salary yang lebih hemmm.

Tapi hanya dengan petunjuk itu, tampaknya sulit dilacak. Apalagi, Mandi juga tidak pernah tahu keluarga sang teman. Mandi akhirnya menyerah. Dia memutuskan untuk tidak lagi menelusuri jejak darah Dedi. Toh sudah 17 tahun dia mencintai Dedi, dan itu dijalaninya dengan ikhlas.

Mandi bersusaha membebaskan pikiran aneh-aneh semacam tadi dengan semakin mencintai istri dan anak-anaknya. Tapi, justru pada saat itulah gelombang cobaan datang lagi.

Ketika membersihkan gudang dan garasi, secara tidak sengaja Mandi menemukan sebuah buku kecil. Sudah sangat kusam. Tampak kalau buku itu sudah tua. Pada sampulnya tidak ada tulisan apa pun.

Namun ketika membuka halaman pertama, sontak Mandi tercekat. Ada foto di sana. Dua foto dipasangkan berdampingan. Yang satu foto Indah, sedangkan yang satu lagi entah siapa.

Mandi mencoba mengingat-ingat. Butuh waktu cukup lama bagi Mandi sebelum bisa meyakini bahwa foto tersebut adalah mantan pacar terakhir Indah. Kalau tidak salah namanya, sebut saja Urat. Nama lengkapnya Amangkurat Nadi.

Bila foto Urat mampu membuat Mandi tercekat, isi tulisan di bawah foto-foto itu lebih mengerikan. Isi tulisan itu, antara lain, begini: 

Mas Urat, aku rela menyerahkan kehormatanku kepadamu karena aku mencintaimu. Biarlah jasadku menjadi milik Mas Mandi yang dijodohkan Ayah. Doakan saja aku bisa hidup bahagia. 

Bila Tuhan menghendaki, kita pasti berjodoh walau usia sudah memakan raga-raga kita…

Tulisan pada buku itu, kata Mandi, sangat panjang. “Tapi yang kubaca hanya sampai di situ. Ada bekas-bekas yang menunjukkan buku itu pernah dibakar, namun tidak jadi,” kata Mandi. (habis)