Menyingkap Misteri Ayah Biologis Anak Sulung (3): Musik dan Asap Mengiring ke Imajinasi tanpa Batas

Yuli Setyo Budi, Surabaya

Hari yang dinanti-nantikan Mandi pun tiba. Sejak pagi Mandi menunggu temannya di RS. Sendirian di ruang tunggu laboratorium. Waktu itu masih sepi. Petugas memang hanya melayani pasien-pasien rawat inap.

Tapi tidak seperti yang dia perkirakan, hasil tes DNA teman-teman Indah tidak ada satu pun yang mengindikasikan sebagai ayah biologis Dedi. Tidak juga Semi Pornomu yang tampak akrab dengan Indah.

Mandi menjadi sempat tak yakin atas apa yang dia pikirkan. Walau begitu, dia merasa tidak ada salahnya untuk mencoba. Yaitu: mengetes DNA teman-teman akrab dia sendiri yang juga hadir pada pesta perkawinan dia vs Indah. 

Mewujudkan rencana itu tidak sulit, karena darah-darah seluruh teman masih tersimpan rapi di gudang PMI. Belum diberangkatkan ke daerah bencana karena Jawa Timur dan sekitarnya relatif belum membutuhkan pasokan darah. Sementara, kebutuhan untuk korban gempa di Lombok sudah terpenuhi.

Mandi terpaksa harus menunggu lagi proses pembacaaan DNA hingga tiga hari ke depan. Tapi, rasanya tidak seperti yang pertama dulu. Kali ini Mandi menunggu seperti yang dirasakan orang-orang lain.

Tepat pada hari yang dijanjikan, Mandi mengambil hasil tes dan membacanya. Seperti dugaan dia, juga tidak ada yang terindikasi sebagai ayah biologis Dedi. Legalah hati Mandi, tapi sekaligus gelisah. Sebab, pertanyaan siapa sejatinya ayah biologis Dedi belum terjawab.

Bedanya hanya, Mandi tidak harus tergesa-gesa untuk menjawab pertanyaan itu. Maka, Mandi lantas mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi pada seputaran hari-hari awal pernikahan dia vs Indah. Sebab, sepertinya saat itulah tragedi Dedi gate terjadi.

Mungkinkah itu berlangsung pada kurun bulan madu mereka di Bangkok? Kemungkinan ini memang bisa saja terjadi, karena mereka merayakan bulan madu tidak hanya berdua, melainkan bersama-sama pasangan pengantin baru lain.

Mereka adalah peserta tur bulan madu yang diadakan sebuah travel di Singapura. Pasangannya bisa berasal dari mana saja. Dari seluruh penjuru dunia. Mandi dihadiahi paket tur tersebut oleh teman kuliahnya yang bekerja di dunia hiburan malam Negeri Singa tersebut.

Lantas, apa yang terjadi saat itu? “Sesampai di salah satu tempat tujuan, kami dijamu beragam makanan dan minuman khas Thailand. Di tengah acara, ada seseorang mentraktir kami wine. Setiap pasangan diberi sebotol besar white wine,” kata Mandi.

Saat itulah terjadi kekacauan. Bukan keributan atau perkelahian, melainkan hanya kacau. “Bagaimana nggak kacau. Kami semua mabuk. Mabuk berat. Dan entah apa yang terjadi saat kami sedang mabuk, tahu-tahu kami terbangun di kamar kami masing-masing. Berpasangan. Indah ada di ranjang bersamaku, tapi nyaris jatuh,” kata Mandi, yang menambahkan bahwa pakaian mereka saat itu sudah nggak karu-karuan.

Tapi, kata Mandi, waktu itu tidak ada yang berpikir aneh-aneh. Yang ada hanya happy, happy, dan happy. Tidak ada pula yang protes atau mengklaim panitia atas segala kejadian.  

“Jujur, kejadian malam itu benar-benar tidak akan terlupakan. Kami dijamu dalam ruang gegap gempita penuh alunan musik dan asap pekat yang mengantarkan kami ke alam imajinasi tanpa batas,” aku Mandi. Usia belia dan kebugaran yang berada pada puncak-puncaknya menjadikan Mandi dan Indah—serta pasangan-pasangan selain mereka—larut dalam kegembiraan total. (bersambung)