Menyingkap Misteri Ayah Biologis Anak Sulung (2): Menyerah, Dia Serahkan Sedekah Malam untuk sang Istri

Yuli Setyo Budi, Surabaya

Sesuai yang direncanakan, Mandi dan Indah mengundang teman dekat masing-masing. Mereka dikumpulkan bersama untuk makan malam di rumah. Dan, bukan kebetulan kalau hari itu dipaskan dengan ulang tahun perkawinan mereka.

Pesta malam itu sangat meriah. Musik berkumandang sejak selepas Isya hingga hampir menjelang tengah malam. Penyanyi ibu kota yang biasa menjadi juri ajang pencarian bakat di televisi swasta didatangkan.

Saking gayeng-nya, tidak ada yang pamit meninggalkan tempat sebelum acara berakhir. Mandi bahkan memersiapkan kejutan di akhir acara: donor darah. “Wajib bagi para lelaki, sunnah muakat bagi ibu-ibu,” kelakar Mandi, yang lantas menambahkan bahwa darah teman-teman akan disumbangkan ke daerah bencana.

Mandi juga menjelaskan bahwa pada awal musim penghujan biasanya banyak terjadi bencana alam dan wabah penyakit yang membutuhkan amat banyak sediaan darah. Maka, tidak ada salahnya bila teman-teman menjadi pelopor pengumpul darah.

Sambutan tamu sangat meriah. Mandi—yang dibantu teman-temannya dari PMI—memberi nama satu per satu tabung darah yang terkumpul.

Mandi mencurigai seseorang yang beraktivitas tidak pernah jauh dari Indah. Gestur tubuhnya  menampakkan bahwa pria itu memunyai hubungan istimewa dengan Indah. Karena itulah Mandi menandai secara khusus tabung darah lelaki tadi, yang bernama, sebut saja Semi Pornomu.

Tepat tengah malam, acara disudahi. Dengan gaya manja-manja mendesah Indah mendekati suaminya. Diembuskannya napas cinta dari balik daun telinga, dia ulurkan elusan sayang di dada sang suami, dan dia daratkan ciuman nakal di pemuluk mata Mandi.

Bergairahkan bapak dua akan ini? Enggak! 

Dia malah berpura-pura mabuk  dan tertidur tengkurap di sofa ruang tamu. Segala tingkah Indah tak dia hiraukan. Bahkan tatkala sang istri berusaha membangunkan burung hantu yang terkapar di sangkarnya.

Mandi akui sebenarnya dia sempat hongat. Tapi dia lawan. Rasa cemburu lebih mencabik-cabik batinnya. Makanya dia berusaha kuat untuk tetap pada posisi tengkurap agar kepura-puraannya tidak terbongkar.

“Di bawah pengaruh wine, siapa sih Pak yang tidak mudah dibangkitkan?” kata Mandi, lantas tersenyum.

Singkat cerita, setelah banyak menerima serangan, akhirnya Mandi menyerah. Dia kerahkan kejantanannya demi sedekah malam kepada sang istri. “Sekuat apa pun kecemburuanku, ada titik-titik di mana aku tidak berdaya,” kata Mandi bak berfilsafah.

Sore harinya Mandi menemui temannya di RS dan minta tolong dibacakan DNA teman-teman dekat Indah. Tidak ada satu pun yang terlewat. Sang teman minta waktu seminggu. 

Ditawar Mandi: dua hari. Sang teman menurunkan waktunya: empat hari, tapi Mandi ngotot: dua hari. Akhirnya disepakati pembacaan DNA teman-teman Indah akan selesai dalam tiga hari. Ini jalan tengah. Mandi gak nganyang maneh!

Namun, walaupun cuma tiga hari, Mandi menjalaninya seperti 30 tahun. Setiap detik laksana merambat pelan. Segala bunyi terdengar jadi nyaring, apalagi teriakan; segala warna terlihat menyilaukan, apalagi putih dan kuning; segala… (bersambung)