Duka Seorang Ayah Mengasuh Gadis Zaman Now (2): Akui Pernah Intimi Riama, tapi Tidak Sendirian

Yuli Setyo Budi, Surabaya

Keluhan duda beranak tunggal ini tidak berhenti. Kenakalan Riama pun belum terbendung. Riama yang semula hanya mendampingi Wahyu karena cinta itu akhirnya turut hanyut dalam kubangan yang diobok-obok sang kekasih.

Riama pulang dalam kondisi mabuk bukan rahasia lagi. Semua sudah tahu itu.Para tetangga yang semula nyinyir kini balik bersimpati kepada Deni dan mengutuk Riama sebagai anak durhaka.

Deni yang berada pada titik tertinggi keputusasaan akhirnya menempuh jalur penyelesaian tanpa logika. Mendatangi orang pintar. Paranormal. Dukun. Dia minta tolong dicarikan jalan keluar dari berbagai masalah yang dia hadapi justru kepada orang yang tidak jelas kepintarannya. Orang yang tidak normal. Orang yang pikun dengan sengaja.

Berbagai syarat dan prasyarat harus dia penuhi. Misal, membawa kembang tujuh rupa. Tapi, untuk apa? Apa kembang-kembang tadi akan dimasak jadi sup bunga? Dengan kuah air tujuh sumur?

Aneka ritual pun harus dia jalani. Misal, membakar kemenyan di dalam kamar. Apa maksudnya agar para makhluk halus pengganggu Riama bakal kabur karena klagepen menghirup asap?

Semua serba tidak jelas, tapi semua tetap dilakoni dengan setengah hati. Separuh percaya, setengahnya lagi masih menyisakan keraguan. Dan benar saja, tidak lama kemudian justru bencana lebih besar menimpa Deni: Riama hamil.

Yang mengagetkan Deni, pengakuan Riama bahwa pemilik benih yang tumbuh di rahimnya adalah Wahyu, pemuda yang paling dia benci. Pengangguran luntang-lantung yang meresahkan hampir seluruh warga kampung.

Deni tak bisa mengelak. Sebab, para tetangga yang sudah mengendus persoalan ini beramai-ramai mendatangi Deni, mendorong dan setengah memaksa dia untuk minta pertanggungjawaban Wahyu.

Warga beralasan tidak mau terlalu lama menyimpan aib berupa kehamilan Riama. Karena itu, Riama harus segera dinikahkan dengan lelaki yang diakui gadis ini telah merusak kehormatannya. Wahyu.

Deni akhirnya diantar bapak-bapak beramai-ramai mendatangi rumah Wahyu. Singkat cerita, Wahyu mengakui memang dia pernah berhubungan intim dengan Riama. Tapi tidak sendirian, melainkan bergiliran dengan beberapa temannya.

Namun, Riama tetap bersikukuh bahwa Wahyu-lah satu-satunya lelaki yang sudah mengakibatkan kehamilannya. Bukan yang lain. Sempat terjadi ketegangan karena masing-masing saling bersikukuh.

Pak RT yang ada di antara mereka memberikan jalan tengah. Dia menawarkan solusi untuk tes DNA. Bila memang bayi yang terkandung di tubuh Riama bukan darah daging Wahyu, dia akan dibebasakan dari tanggung jawab apa pun.

Tapi bila terbukti tes tadi terbukti memang menunjukkan Wahyu-lah baby si bayi, dia dan keluarganya harus menanggung risiko. Wahyu dipolisikan dan keluarga dia diusir dari kampung. Akhirnya Wahyu menyerah.

Malam itu juga, disaksikan berpuluh-puluh pasang mata, Riama dinikahkan vs Wahyu. Istilah Suroboyone: Wahyu dan Riama di-kawin modin-kan. Setelah itu pasangan ini tidak langsung hidup serumah, melainkan pulang ke rumah masing-masing.

Baru seminggu kemudian sejoli ini tinggal bersama. Mereka menempati rumah Wahyu, sedangkan ayah dan ibu Wahyu mengalah pindah, menempati rumah yang selama ini disewakan. Rumah itu berada di kawasan Sukodono, Sidoarjo. (bersambung)