Perkawinan Diundur-undur, Guna-Guna Bicara (2): Diancam Dijauhkan dari Jodoh, Malah Kejar S3

Yuli Setyo Budi, Surabaya

Dibyo yakin penyebab Hapsa jauh dari jodoh bukan karena dilangkahi sang adik. Menurut dia, itu adalah mitos yang dapat menjerumuskan ke kesyirikan. Tapi soal guna-guna, dia menilai kemungkinan itu memang ada.

Pada awal kuliah, Hapsa berkenalan dengan seorang cowok, sebut saja Arif. Tidak lama setelah itu mereka jadian jadi sepasang kekasih. Hubungan mereka cukup harmonis dan bisa bertahan hingga wisuda.

Hapsa meneruskan kuliah ke S2, sedangkan Arif langsung bekerja di sebuah media massa. Walau demikian, setahun kemudian, di sela kesibukannya bekerja, tidak mau kalah dari sang kekasih, Arif bertekad meluangkan waktu untuk mengambil S2.

“Nak Arif melamar Hapsa setengah tahun setelah wisuda S1,” kata Dibyo.

Meski harmonis selama pacarana, dalam soal Pendidikan dan perkawinan muda-mudi ini berbeda pandangan. Saat itu Hapsa meminta waktu menunda pernikahan hingga lulus S2 dulu. 

Arif ngotot, demikian pula Hapsa. Mereka bersikeras pada pandangan masing-masing. Tidak ada yang mau mengalah. “Hapsa sejak kecil memang bercita-cita tinggi,” kata Dibyo.

Mungkin karena mangkel atau hal lain, perpanjangan rencana nikah oleh Hapsa tadi dianggap keluarga Arif sebagai penolakan. Arif bahkan dipaksa meninggalkan Hapsa karena orang tuanya, terutama ibu, menilai gadis ini tidak bersungguh-sungguh mencintai Arif.

Kala itu Arif bergeming. Dia menyatakan tetap akan menunggu Hapsa hingga menyelesaikan S2-nya. Namun nahas. Menjelang kelulusan Hapsa, adiknya yang baru duduk di bangku semester akhir, sebut saja Ningsih, tersangung masalah.

Dia hamil di luar nikah. Terpaksa Ningsih dan pacarnya dinikahkan, mendahului rencana pernikahan Hapsa. “Sebenarnya kami tidak ada masalah. Biarkan adiknya nikah duluan, Hapsa menyusul setelah lulus,” kata Dibyo.

Masalah justru datang dari keluarga Arif. Mereka ngotot membatalkan rencana pernikahan Hapsa-Arif setelah mendengar kabar soal Ningsih. Sesepuh keluarga Arif menyatakan tidak setuju Hapsa dilangkahi adiknya. Ini, kata mereka, adalah pamali dan dapat membawa sial pada kehidupan keluarga Hapsa-Arif di kemudian hari.

Dibyo mencoba memberi pengertian keluarga Arif, tapi tak diindahkan. “Mereka bahkan menuduh kami mempermainkan anak semata wayang itu. Mereka juga mengancam bakal menjadikan jodoh Hapsa menjauh,” kata Dibyo.

Karena tidak ada titik temu, Dibyo mengalah. Hapsa juga tak mempermasalahkan rencana pernikahannya batal gara-gara persoalan ini. Menurut bapak-anak ini, jodoh di tangan Allah. Manusia sekadar berusaha. Kalau memang Allah tidak menakdirkan Hapsah berjodoh vs Arif, ya sudah.

Sejak itu hubungan keluarga Hapsa dan keluarga Arif terputus. Total. Hapsa yang menganggap pendidikan dan karier lebih penting ketimbang pernikahan malah merasa mendapat ajang untuk mengekspresikan diri. Perempuan tersebut semakin fokus mengejar cita-citanya meraih gelar doktor di usia muda. 

Makanya, begitu lulus S2, Hapsa tak menolak tawaran mengajar di kampusnya. Tawaran ini dijadikannya jalan untuk meraih cita-cita. (bersambung)