Takkan Lari… Jodoh Dikejar (2): Hindari Perjodohan, Ambil S3 di LN

Yuli Setyo Budi, Surabaya

Setelah dirias, Hendri dipersilakan menunggu. Sekitar setengah jam kemudian dia dijemput dan didudukkan di pelaminan. Di kanannya ada seorang pria dan perempuan paruh baya, di kirinya ada perempuan cantik berusia sekitar 25 tahun, dan di kirinya lagi ada lagi sepasang pria dan wanita paruh baya.

“Jujur saja aku sempat grogi, Om. Bayangkan, aku harus berperan jadi pengantin pria pengganti dan bersanding dengan perempuan cantik. Amat cantik. Celakanya, sebelumnya aku tidak pernah dipertemukan dengan perempuan itu,” tutur Hendri.

Pemuda berdarah campuran India-Jawa ini menjelaskan, dia diminta menjadi pengantin pria untuk menggantikan pengantin pria yang sesungguhnya, yang kabur entah ke mana sepekan sebelum hari H pernikahan. Padahal, undangan telanjur disebar.

Orang tua pengantin wanita tentu saja kelabakan. Mereka malu. Pengusaha properti ini sudah berusaha mencari pengantin pria, tapi nihil. Tidak hanya si pengantin pria, keluarganya juga raib. “Om tidak menjelaskan mengapa pengantin pria menghilang. Beliau hanya minta aku menggantikan posisi pengantin pria tadi pada resepsi pernikahan. Setelah itu, bubar,” kata Hendri dengan sorot mata menerawang.

Om Hendri juga menjelaskan, pascaresepsi, pengantin wanita, sebut saja Melinda, langsung dilarikan ke luar negeri. Dia disuruh orang tuanya melanjutkan kuliah S2 dan S3 di Amerika. “Jadi, kami hanya bertatap muka pada malam resepsi itu. Tidak lebih,” imbuh Hendri, yang mengaku tidak pernah bisa melupakan wajah dan sorot mata perempuan yang dia ketahui bernama Melinda itu.

Hendri menangkap ada ketidakberdayaan pada sorot mata itu. Hendri juga menangkap ada pemberontakan. Jujur Hendri mengaku tidak bisa melupakan itu. Karena itu, untuk mengobati perasaan hatinya, dia minta hasil cetak atau foto digital pernikahannya, tapi tidak pernah bisa. Kata om dia, Kobar, tidak ada dokumen resepsi pernikahan abal-abal itu. Sebab, bagi keluarga Melinda, itu adalah aib yang harus ditutup-tutupi.

“Bua tapa? Kau kan sudah dikasih ganti rugi waktumu Rp 100 juta. Itu bukan nilai yang kecil lho,” kata sang paman, yang menambahkan bahwa sebaiknya Hendri melupakan peristiwa itu. Hendri diminta menguburnya dalam-dalam.

Diakui Hendri, bertahun-tahun dia belum bisa melupakan pernikahan pura-pura itu. Buktinya, dia tak mudah menerima cinta perempuan lain. Dia selalu membanding-bandingkan perempuan itu dengan Melinda. Termasuk, perempuan pilihan ibunya yang masih berkerabat jauh. Padahal, perempuan asal Solo itu sangat cantik dan tergolong keluarga berdarah biru. Andaipun kecantikannya dibandingkan, dia tidak kalah dari Melinda.

“Ibu sempat marah besar, karena gadis yang dijodohkan denganku adalah anak tunggal pewaris pabrik kain batik terkenal. Tapi gimana ya Om, aku kan nggak tertarik,” imbuh pemilik mata tajam ini.

Hendri mengaku selalu dikejar-kejar ibunya dan dipaksa secepatnya manikah. Terutama kerika umurnya sudah menginjak kepala tiga, tujuh tahun yang lalu. “Untuk menghindari desakan Mama, aku beralasan mendapat tugas dari tempat kerjaku melanjutkan kuliah S3 di manca negara. Padahal, itu kehendakku sendiri,” tutur Hendri. Bukan sekadar alasan, Hendri memang terbang ke luar negeri untuk mengambil S3. (bersambung)