Suami Hobi Ber-Sexphone (2): Badannya Terasa Enteng, Enak Digoyang

Rahajeng Puspitasari, Surabaya

Warni tidak pernah bosan berupaya untuk memergoki suaminya ber-sexphone. Bukan untuk apa-apa selain menjadikannya alasan menggugat cerai. Sebab, sejatinya dia sudah bosan dengan perubahan perilaku Udin yang menyakitkan.

Terakhir Udin menggauli Warni sekitar empat bulan lalu. Itu pun dilakukan karena terpaksa. Warni meminta seperti perilaku tante-tante girang memaksa gigolonya beraksi. “Memalukan, memang. Tapi gimana lagi? Itu kan hakku,” kata Warni sambil tersipu melirik Memorandum.

Sebenarnya secara keseluruhan lehidupan Udin tampak biasa-biasa saja. Cuma, perhatiannya kepada istri dan anak-anak berkurang. Udin juga jadi ringan tangan. Dan, itu hanya dirasakan Warni dan anak-anaknya. Orang luar tidak bakalan tahu. Sebab, ketika di muka umum, sikap Udin kepada keluarganya sangat baik.

Saking baiknya, para tetangga sering memuji Udin sebagai suami dan bapak teladan. “Munafik! Itu penilaiannku. Dia memang pandai berpura-pura. Ayah dan ibuku saja tidak tahu. Apalagi mertua,” kata Warni.

Yang sempat tidak dimengerti Warni, kena apa suaminya tidak memberikan seluruh gajinya seperti dulu. Padahal, suaminya tidak membutuhkannya untuk apa-apa.

Hobinya ber-sexphone jelas tidak membutuhkan biaya banyak selain membeli pulsa atau kuota data. “Lantas untuk apa? Dikemanakan saja sisa gajinya? Sebab, jumlah yang diberikan kepadaku dan yang tidak jelas penggunaannya lebih banyak yang nggak jelas,” keluh Warni.

Warni bertanya seperti itu karena Udin terbilang lelaki pomah. Tidak suka keluyuran ke mana-mana. Rutenya hanya rumah-kantor. Untuk menjawab rasa penasarannya, iseng Warni menggeledah meja kerja—yang selama ini tidak pernah dia sentuh—dan tumpukan baju Udin di lemari.

Ketika itulah Warni menemukan beberapa butir pil di dalam sebuah plastik klip di sela-sela jajaran bukunya di ruang kerja. "Aku sempat bertanya dalam hati: apa ini? Karena penasaran, aku mencoba menelannya sebutir,” aka Warni.

Reaksinya terasa beberapa menit kemudian. Badannya terasa enteng. Simpul-simpul persendiannya seperti melunak. Pandangannya kabur. Tubuh Warni juga mudah digoyangkan oleh alunan musik. Selain itu, indra perasanya, terutama bagian sensitifnya, meningkat tajam. Sangat tajam. Enak menjadi sangat enak. Sangat enak menjadi sangat-sangat enak. Begitu seterusnya. 

“Saat kutanyakan ke teman, katanya itu ekstasi. Itulah jawabannya,” kata Warni, yang mengaku beberapa hari kemudian memergoki Udin sedang ber-sexphone di kamar mandi. Itu dilihatnya dari lubang kecil yang dia buat.

Melalui lubang itu, Warni melihat Udin memburu puncak kenikmatan sambil melihat teman kencannya melakukan hal yang sama di layar HP. Bunyi alunan musik lembut terdengar samar oleh telinga Warni. Dia juga samar mendengar Udin merintih. Lirih. 

Mantan atlet taekwondo ini spontan mendobrak pintu kamar mandi dan melihat Udin menatapnya nanar. “Tidak banyak kata, Mbak. Esoknya aku langsung ke sini (PA Surabaya, red) dan mengajukan gugatan cerai.” (jos/habis)