Korban Gempa Kepulauan Sapudi Butuh Banyak Tenaga Medis

Beberapa rumah warga di Kabupaten Jember yang kondisinya rusak parah akibat terdampak gempa, tidak ada korban jiwa dalam musibah ini

SUMENEP-Pasca tsunami dan gempa yang mengguncang Sulawesi Tengah, kejadian serupa merembet ke Madura dan sebagian wilayah Jatim. Gempa dengan kekuatan 6,3 Skala Richter (SR) itu, membuat Kabupaten Sumenep paling terdampak.
Menurut petugas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), titik pusat gempa bumi tersebut 61 km timur laut Situbondo, Jawa Timur, 83 km Tenggara Sumenep, Jatim, 87 km timur laut Kabupaten Bondowoso, 161 km barat laut Denpasar, Bali, dan 860 km tenggara Jakarta.
Bahkan di kejadian itu membuat tiga warga tewas dan belasan lain terluka. Selain itu puluhan rumah kondisinya hancur akibat gempa pada Kamis (11/10), sekitar pukul 01.44 tersebut. Seperti yang dituturkan Dahlan (60), warga Sera Timur, Kecamatan Bluto, saat kejadian berlangsung dia dan keluarganya sedang tertidur pulas di rumah.
Beberapa saat, Dahlan terbangun karena merasakan rumahnya terguncang. Menyadari ada bahaya, pria ini bergegas membangunkan seluruh keluarganya menyelamatkan diri keluar rumah. Hal yang sama juga dilakukan tetangga Dahlan untuk menghindari reruntuhan rumah yang ditempati. Ditambahkan Dahlan, guncangan gempa di desanya berlangsung sekitar 4 detik.
Meski begitu akibat gempa sesaat itu membuat puluhan rumah di desa tersebut mengalami kerusakan cukup parah. Mulai tembok terbelah hingga dinding dan plafon hancur. “Saya sekeluarga kaget dan langsung berlari keluar rumah karena guncangan keras sekali,” ujar Dahlan.
Sedangkan data yang dikeluarkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (PBPD) Sumenep, terdapat 35 bangunan rusak yakni di sejumlah kecamatan di Kepulauan Sapudi, untuk yang didaratan belum diketahui jumlah bangunan yang rusak. Data dari BPBD Jatim di Sumenep terdapat 280 rumah rusak. Bangunan yang rusak paling banyak berada di Kecamatan Gayam dengan jumlah 240 rusak, Nonggunong 36 rusak, Bluto 2 rumah rusak, dan Lenteng 2 rumah rusak.
Kasubbag Humas Polres Sumenep Ipda Agus Suparno menyebutkan, warga Kecamatan Gayam, Kepulauan Sapudi, warga yang tewas ada 3 orang dan 17 lain terluka. Ditambah 3 orang luka sedang dan 4 luka berat. Ketiganya H Nadar (60), Nuril Kamelia (7), Muhamar (70), mereka warga Dusun Jambusok, Desa Prambanan.
Sedangkan yang terluka di antaranya, Aswiya, (65), Sudik (60), keduanya warga Dusun Pancor, Desa Pancor ; Hj Nasia, (55), warga Dusun Jambusok, Desa Prambanan terkena rurntuhan tembok; Ny Rinami (70), warga Dusun Guder Dejeh, Desa Nyamplong.
Disusul, Muhawiya (60), Buhama (65), keduanya warga Dusun Karang Nyior, Desa Prambanan. Mereka terluka akibat reruntuhan tembok rumah; H Samsu (65), Su'aida (55), Sarwini (50), ketiganya warga Dusun Kon Laok, Desa Prambanan. Sedangkan meninggal dunia, H. Nadar (60) Nuril Kamelia (7) Muhamar (70), ketiga korban warga dusun Jambusok. Desa Prambanan.
Dinas kesehatan kabupaten setempat telah mengirim petugas medis ke Puskesmas Gayam, Pulau Sapudi yang ditugaskan untuk membatu korban gempa berkekuatan 6,3 SR.Tidak hanya wilayah kepulauan yang ditambah jumlah tim medisnya. Untuk daratan juga dilakukan penambahan. Kadinkes Kabupaten Sumenep Fatoni menyebutkan, dua dokter serta perawat khusus penanganan luka berat telah diberangkatkan di Pulau Sapudi.
“Kalau masih kekurangan akan kami kirimkan tim medis lagi, untuk sementara bertugas di Puskesmas Nonggunong diperbantukan ke Puskesmas Gayam,” kata dia.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalianget, Kabupaten Sumenep Usman Khalid menyebutkan, pasca gempa berkuatan 6,3 SR mengucang sekitar pukul 01.44 dini hari, berdasar data BMKG sekitar pukul 09.30 WITA atau pukul 08.30 WIB terjadi gempa susulan sebanyak 17 kali. “Sekitar pukul 08.30 WIB data BMKG menerima laporan gempa susulan sebanyak 17 kali dengan kekuatan sangat kecil.
Dikatakan dia, getaran gempa susulan tidak dapat dirasakan namun data Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Kalianget menyebut sebanyak 17 kali terjadi getaran, atau gempa sususan. ”Getarannya relatif kecil dan tidak dirasakan,” papar dia.
Dari pengamatannya, gempa susulan berkuatan bervariasi dari 3,6 sampai 2,7 SR. Usman Khalid mengimbau masyarakat tidak cemas, serta panik dan diharapkan tidak mudah percaya terhadap beredarnya informasi gempa yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenaran dan sumbernya.
Meski tidak menyulut kepanikan, guncangan gempa juga ramai dipergujingkan sebagian besar warga di Kabupaten Bangkalan. Puluhan jemaah salat Subuh di Masjid At Taqwa II di Kampung Lebak, Kelurahan Pangeranan, soal guncangan gempa di kabupaten ujung barat Pulau Madura itu.
    “Saya kaget, sebelum sebelum tahajud tiba-tiba merasakan guncangan keras. Sebagian perabotan dapur, seperti piring, gelas dan lainnya bergoyang-goyang menimbulkan suara gemerincing,” kata Drs H Moh Syafii, Ketua Pengurus Cabang Muhamadiyah (PCM) Kecamatan Bangkalan, seusai slat Subuh, Kamis (11/10).
Gempa juga dirasakan warga di Kelurahan Bugih, Gladak Anyar, Kabupaten Pamekasan, Madura. Menurut Agus, Satpam Almuna Pamekasan, sekitar pukul 01.48, saat berjaga di pos mendadak ia merasakan guncangan keras. Selain itu beberapa kaca di rumah warga terlihat pecah berantakan.
"Kejadiannya sekitar 15 detik tapi membuat warga panik," ucap Agus yang berharap informasi dari pihak BMKG harus cepat dan akurat, agar jika terjadi gempa susulan, masyarakat telah berjaga diri dari segala kemungkinan.
Gempa ikut berdampak pada sejumlah rumah milik warga di Kabupaten Jember. Bangunan mereka mengalami kerusakan parah, sedang dan ringan. "Saat gempa semua panik dan berhamburan keluar rumah dan bersamaan dengan itu, tiba-tiba dinding rumah samping ambruk dan kami sekeluarga segera keluar dari pintu sisi kiri," kata Hasyim warga Kelurahan Kebonagung, Kecamatan Kaliwates.
“Beruntung dinding rumah yang ambruk akibat gempa bumi tersebut mengarah ke luar dan reruntuhan batu bata tidak jatuh ke dalam rumah, sehingga saya bersama istri dan cucu langsung lari menyelamatkan diri dari pintu samping yang tidak ambruk," tutur dia.    
Pascakejadian gempa itu, Hasyim bersama istri dan cucunya terpaksa tidur di rumah saudara yang lokasinya tidak jauh dari rumahnya karena khawatir terjadi gempa susulan. Pun kondisi rumahnya yang ambruk dikhawatirkan membahayakan keselamatan keluarganya.
    
Sementara korban lainnya Slamet mengatakan dinding rumahnya juga ambruk akibat guncangan gempa selama 3-5 detik tersebut. Namun tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu karena ia bersama keluarganya keluar rumah saat dinding rumahnya ambruk.
"Alhamdulillah semuanya langsung keluar rumah saat guncangan gempa cukup kuat, sehingga semuanya selamat dan saat ini rumah terpaksa harus ditopang bambu karena khawatir roboh," kata dia.
Kabbag Humas Pemkab Jember Herwan Agus Darmanto mengatakan, wilayah Kabupaten yang terdampak meliputi 6 Kecamatan. "Enam Kecamatan yang terdampak tersebut meliputi Kecamatan Kaliwates, Arjasa, Sukorambi, Patrang, dan Temporejo, maupun Mumbulsari." Kata dia.
Dari data yang masuk, Kecamatan Kaliwates terdapat 11 rumah, dan 1 musala; Kecamatan Arjasa, 2 rumah; Sukorambi ada 8 rumah; Mumbulsari ada 1 rumah, Temporejo terdapat 1 rumah ; dan Patrang ada 1 rumah. "Jumlah sementara laporan yang masuk sebanyak 24 rumah dan 1 musala, rusak ringan dan rusak bera. Hingga kini pihak  BPBD masih terus melakukan pendataan,” pungkas Herwan (uri/ras/sjk/edy/nov)