Gempa dan Tsunami Sulteng: Penjarah Incar Sertifikat, Napi Dibiarkan Lepas

KM Sabuk Nusantra 39 terdampar ke daratan akibat gempa disertai tsunami di Desa Wani, Pantai Barat Donggala, Sulawesi Tengah. Kapal ini sebelumnya tengah sandar. Namun akibat gempa yang disusul tsunami pada Sabtu (28/9) lalu, kapal tersebut tergeser dari posisi semula hingga 60 meter ke daratan. Akbatnya dermaga tempat sandar juga mengalami kerusakan.

PALU - Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly mengatakan, pihaknya membiarkan narapidana dan tahanan di Lapas Palu dan Rutan Donggala, sementara waktu di luar sel. Alasannya, lapas dan rutan hancur karena gempa dan tsunami yang terjadi pada 28 September 2018. 

Total napi yang saat ini dibiarkan berada di luar lapas dan rutan mencapai ribuan orang. "Dari data sampai 1000-an napi di Donggala. Di Palu ada 400 atau 600. Tapi mereka sebagian ada yang melapor," kata Yasonna di Jakarta, dilansir kompas.com, Selasa (2/10).

Menurut Yasonna, apabila situasi sudah kondusif maka napi di dua rutan tersebut akan dipindahkan ke rutan terdekat yang bangunannya tidak mengalami kerusakan. "Pendataan jalan terus. Ada itikad baik napi melapor saat pulang," kata Yasonna. 

Politisi PDI-P ini mengingatkan, jika ada napi yang melarikan diri, ia memastikan pihak kepolisian akan mencari dan menangkap mereka. "Itu data mereka, rumahnya di mana, kami punya," ujar Yasonna. 

Pada Sabtu (29/9) masih kata Yosanna, terjadi kerusuhan di dalam rumah tahanan Donggala, Sulawesi Tengah. Kerusuhan ini dipicu tuntutan para narapidana yang meminta dibebaskan untuk bertemu keluarganya pasca gempa melumpuhkan Donggala.

Mereka berusaha melarikan diri dan membakar hangus lapas tersebut. Kepala Rutan Donggala, Saifuddin, mengungkapkan peristiwa pembakaran rutan ini terjadi pada pukul 23.00. Diperoleh informasi, lepasnya narapidana ini menjadi salah satu pemicu keresahan warga pengungsi. Mereka sering kali mengeluh kehilangan harta benda, maupun barang berharga dijarah pelaku tindak kriminal. Mahatir warga yang tinggal di komplek Perhutanan Palu mengaku barang berharga miliknya hilang dicuri. Ia menyebutkan, rumah tinggal itu sudah beberapa hari kosong, pasca bencana. “Bukan hanya motor, pakaian dan barang berharga lainnya juga hilang,” tandas dia.

Kuat dugaan pelaku kejahatan ini, dilakukan orang-orang yang memanfaatkan situasi darurat pasca bencana. “Sekarang warga mulai mengamankan sertifikat rumah, surat berharga lain untuk menghindari aksi kejahatan,” terang Mahatir.

Ia menyampaikan, warga menduga aksi kejahatan ini dikaitkannya dengan lepasnya narapidana dari rumah tahanan. “Warga banyak menduga seperti itu. Masak di tengah kesediahan ada yang memanfaatkan untuk kejahatan,” keluh Mahatir.

Sementara itu, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Sutopo Purwo Nugroho di Gedung BNPB, Jakarta, menyampaikan 153 jenazah korban gempa dan tsunami di Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah dimakamkan massal di tempat pemakaman umum (TPU) Poboya dan sekitarnya, seperti dilansir kompas.com, Selasa (2/10). 

"Hari ini dimakamkan jenazah yang lebih banyak. Sudah disiapkan 15 truk dan 1.000 kantong mayat," ujar Sutopo Purwo Nugroho. 

Sutopo menambahkan, hari ini akan lebih banyak lagi jenazah yang akan dimakamkan massal. Namun, hingga kini belum diketahui pasti jumlahnya. "Hari ini akan lebih banyak lagi, ada berapa akan disesuaikan dengan kondisi di sana," pungkas Sutopo. (*/day/nov)