Harga BBM dan Air Galon Rp 100 Ribu, Gempa dan Tsunami Sulteng

Ratusan warga yang terdampak gempa dan tsunami di Palu terpaksa mengambil bahan bakar minyak (BBM) dari mobil tangki di SPBU, Palu, Sulawesi Tengah.

SURABAYA - Pasca tsunami membuat masyarakat Sulawesi Tengah (Sulteng), khususnya tinggal di Palu dan Donggala, panik. Belum meratanya bantuan bahan makanan membuat kebutuhan hidup meningkat drastis. Bahkan bahan bakar minyak (BBM) mencapai angka Rp 100 ribu/liter, demikian juga dengan air galon juga menyentuh harga Rp 100 ribu, Minggu (30/9).

Salah satu keluarga karyawan Memorandum di Palu menyampaikan, mereka saat ini kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Pasca tsunami kebutuhan pokok menjadi barang yang langka. “Minuman dan makanan menjadi mahal. Karena kebutuhan sudah sangat minim. Ini membuat masyarakat panik,” terang sumber di Palu.

Saat ini sebagian masyarakat masih bertahan di pengungsian. Bahkan masih ada warga yang mengungsi di lereng perbukitan sebelah timur Kota Palu. Mereka masih  khawatir gempa dan tsunami kembali terulang. Ia menceritakan banyaknya korban tewas, karena saat gempa dan tsunami warga sedang menggelar persiapan perayaan HUT Kota Palu.

Seperti yang disampaikan seorang warga, Halima, di lokasi pengungsian. Saat ini mereka butuh makanan dan air. “Makanan belum ada dan mencari air juga susah. Kami mengungsi dengan kebutuhan yang sangat terbatas sekali,” keluh dia. 

Para pengungsi pun berlindung dari terik matahari di bawah tenda darurat dengan terpal seadaanya. Untuk alasnya, mereka menggunakan tikar atau terpal. "Tadi sudah ada terpal dan tikar yang dijarah. WC juga tidak ada di pengungsian. Tidak mungkin kami buang air besar di dekat tenda,” imbuh Halimah.  

Halimah berharap bantuan cepat datang terutama untuk kebutuhan anak-anak. Sejumlah warga juga mulai menjarah makanan dari toko-toko karena bantuan tidak juga datang. Kini, ribuan warga Palu yang mengungsi di daerah tinggi, berbondong-bondong kembali ke rumah seusai dihantam gempa dan tsunami.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Minggu (30/9) mencatat 832 orang korban tewas akibat gempa dan tsunami Palu. BNPB menduga jumlah itu masih bisa bertambah. "Data sementara ada 832 orang meninggal, sementara jumlah yang luka-luka masih sama dengan kemarin," kata Kepala Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, dilansir tempo.com.

Menurut Sutopo, data itu belum final dan masih akan terus bertambah. "Data tersebut baru dihimpun di Kota Palu dan Donggala, belum termasuk data di Kota Sigi dan Parigi Moutong," kata dia. (*/day/nov)