Dianiaya Sesama Penghuni Sel, Napi Lapas Jember Tewas 

Kalapas Klas IIA Jember Sarju Wibowo (kiri) didampingi Dadang Firmansyah Kasi Binadik.

JEMBER - Seorang narapidana Rahmad Andika alias Mat Tawon (40), diketahui tewas di dalam selnya, di Lapas Klas IIA Jember, Jumat (24/8) pagi. Korban meregang nyawa setelah dianiaya, karena ditubuhnya ada bekas tanda-tanda kekerasan.

Kepala Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Jember, Sarju Wibowo, menjelaskan bila korban asal Desa Petung, Kecamatan Bangsalsari, merupakan seorang narapidana yang menjalani vonis hakim Pengadilan Negri Jember dalam dua kasus pasal 335 dan 406 KUHP selama 16 bulan penjara dan sudah menjalani 8 bulan. Korban menempati di blok B II bersama 73 Orang.

"Saat pergantian shif jaga pukul 06.15, petugas mendapatkan kabar adanya seorang warga binaan meninggal, dengan luka-luka lebam pada bagian dada dan perut serta jeratan di leher," Sarju Wibowo, Sabtu (25/8).

Masih kata Sarju Wibowo, Kemudian pihaknya melaporkan pada Polres Jember, selanjutnya polisi membawa korban RA ke RS Soebandi untuk dilakukan Outopsi.

Menurut sarju, dengan langkah cepat pihak Polres Jember meminta keterangan terhadap 47 narapidana yang satu kamar, untuk menggali dan mengungkap tewas nya korban yang disebabkan penganiayaan.

"Hasil pemeriksaan koban R-A tewas dikarenakan adanya kekerasan sebelum meninggal, hingga saat ini empat belas tahanan narapidana masih menjalani pemeriksaan Oleh anggota sat Reskrim Polres Jember," lanjut Sarju Wibowo.

Ketika disinggung adanya luka tusukan pada tubuh korban, Sarju Wibowo mengelak ada luka tersebut, karena korban hanya luka lebam dan cekikan pada bagian leher. Sedangkan pada malam kejadian sama sekali tidak ada tanda-tanda keributan dari kamar narapidana. 

"Untuk lebih lanjut pihak Polres yang menjelaskan, hasil outopsi dari dokter RSD Subandi jadi nanti silahkan tanya ke Bapak Kapolres," pungkas Sarju Wibowo.

Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo mengatakan, pihaknya sedang mendalami kasus ini dan optimis bisa mengungkap dalam peristiwa ini secepatnya. 

"Saat ini sedang dilakukan pendalaman. Kami meminta waktu untuk mengungkap motif dan menetapkan tersangkanya," terang Kusworo Wibowo. (edy/tyo)