Baku Tembak, Teroris Manukan Wetan Tewas

Suasana mencekam di Jalan Sikatan IV, Manukan Wetan usai baku tembak dengan teroris.

SURABAYA - Satu teroris tewas di penyergapan anggota Densus 88 di Jalan Sikatan IV, Manukan Wetan, Selasa (15/5), sekitar pukul 17.15. Sebelum diterjang peluru, sempat terjadi baku tembak antara polisi antiteror itu dengan pelaku. Dari kabar yang diterima teroris yang ditembak mati itu bernama Dedy Sulistianto alias Teguh (45).

Tak pelak situasi kampung yang tadinya tenang berubah tegang. Bahkan warga setempat gempar setelah mengetahui ada aksi tembak menembak tersebut. Namun, sebagian warga yang penasaran mencoba untuk mencari asal tembakan itu. Upaya tersebut gagal karena dihalau sejumlah polisi.

Seperti yang dituturkan Nursakim (40), yang ngekos di Jalan Sikatan IV, kejadian baku tembak itu sekitar pukul 17.30. Waktu itu ia sedang menyalakan lampu pos. Mendadak datang puluhan anggota Densus 88 bersenjata lengkap menuju lalu menggerebek rumah kos pelaku. 

Sebagian petugas menyuruh warga masuk ke dalam rumah sehingga kondisi menjadi senyap. "Tak berselang lama terdengar suara banyak tembakan seperti diberondong peluru," kata Nursakim 

Setelah itu, ia tidak mendengar tembakan lagi. Nursakin menambahkan, ketika Densus menggerebek rumah kos tersebut, Teguh dan istrinya berikut tiga anaknya berada di dalam. "Saya tidak bisa melihat lagi karena lampu kampung padam dan belum dinyalakan," imbuhnya. 

Nursakim tidak menyangka jika tetangga kosnya (Dedy, red) adalah teroris. Selain dikenal pendiam, pulang kerja biasanya duduk-duduk di pos bersama warga. Sedangkan istrinya, Yanti (34), sehari-hari penjual donat yang dititipkan ke warung-warung. 

"Sudah 6  tahun ngekos di rumah milik H Sucianto. Pelaku biasa aja dan pendiam. Tidak menggambarkan seperti seorang pelaku teroris pada umumnya yang celananya cingkrang, memakai baju takwa, sarung, ada jenggot sedikit," jelasnya. 

Yanti juga biasa dan sering bergaul dengan ibu-ibu kampung dan menyapa. Terutama pukul 15.00, ia selalu berada di depan gang duduk-duduk. "Pagi biasanya mengantar anak-anaknya sekolah di SD Sikatan. Tiga anaknya berusia 14, 10, dan 7 tahun," beber Nursakim.

Menurut keterangan yang diterima Memorandum, identitas tiga anak Teguh yakni, DNS (14), AIS (10), HA (7). Kejadian tersebut membuat suasana kampung Sikatan mencekam. Warga tidak berani keluar. Semua jalan menuju ke TKP di police line petugas.

Warga sekitar yang berusaha ingin melihat dari jarak dekat kejadian itu, harus dihalui petugas karena akan menyulitkan penyisiran. Meski sudah dihalau, warga berusaha ingin masuk ke lokasi yang berjarak sekitar 20 meter dari gapura gang.

“Petugas harus mengambil tindakan tegas. Informasi yang saya terima tembak menembak melumpuhkan satu terduga teroris," ujar Kabid Humas Polda Jatim Kombes Frans Barung Mangera. 

Dijelaskan Barung, tindakan tegas terhadap teroris pasca bom bunuh diri di Surabaya, Sidoarjo dan Mapolrestabes Surabaya terus dilakukan. “Memang terjadi tembak menembak," kata Frans Barung yang menambahkan tembak menembak yang terjadi di Jalan Sikatan, petugas terpaksa mengambil tindakan tegas karena terorisnya melawan. (rio/nov) 

 

  • 10 TERPOPULER
  • 10 TERBARU