Polisi Buru Guru Bomber Dita, Jenazah Bayu Masih Diidentifikasi

Foto semasa hidup Bayu Rendra Wardhana.

SURABAYA - Setelah memastikan keterkaitan antara tiga keluarga pelaku bom di Surabaya dan Sidoarjo,  Densus 88 Antiteror bergerak cepat dengan memburu jaringan di atasnya. Kini polisi melakukan pengejaran pada seorang pria bernama Abu Bakar yang diyakini merupakan guru dari Dita Uprianto, pelaku serangkaian bom gereja di Surabaya.

Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin membenarkan terkait upaya pengejaran itu. "Ustaz Abu Bakar gurunya Dita itu, tapi masih dalam pengejaran di lapangan. Ada dua dalam pengejaran teman-teman di lapangan," kata Kapolda.

Hanya saja, meski pihaknya membenarkan upaya pengejaran itu, namun Machfud enggan merinci lebih lanjut identitas, peran maupun keberadaan Abu Bakar karena masih dalam proses penyelidikan tim Densus 88 Antiteror.

Kapolda juga menyebut bila Dita dan terduga pelaku bom di Rusunawa Wonocolo Sidoarjo, Anton Ferdiantono saling berkaitan. Dia berharap kepolisian bisa segera menangkap Abu Bakar. "Mudah-mudahan nanti segera kita tangkap," katanya.

Sementara satu-satunya jenazah korban peristiwa bom bunuh diri di beberapa gereja di Surabaya yang masih berada di kamar jenazah RS Bhayangkara Polda Jatim adalah jenazah Aloysius Bayu Rendra Wardhana. 

Korban yang meninggal di halaman Gereja Santa Maria Tak Bercela Jalan Ngagel saat berusaha menghalau dua pelaku pembawa bom. Dari total 13 jasad korban, memang 12 sudah diserahkan ke keluarganya, namun untuk jasad Bayu masih berada di kamar jenazah. "Total korban yang dikembalikan keluarganya tinggal tersisa satu," ujar Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin.

Kenapa jenazah Dita belum diserahkan kepada keluarganya, kapolda menambahkan lantaran polisi masih berusaha mengidentifikasi. Seperti diketahui, akibat ledakan yang cukup besar di Gereja Santa Maria Tak Bercela itu, jasad Bayu kondisinya sangat mengenaskan.

Bahkan beberapa bagian tubuh diketahui terpisah. Karena itu hingga kemarin tim identifikasi terus bekerja untuk mencocokan serta menyatukan serpihan tubuh yang terpisah. “Ini yang membutuhkan kecermatan dan waktu,” tegas Kabid Humas Kombespol Frans Barung Mangera. (yok/nov)