Pemerintahan Jokowi-JK Dinilai Berbohong, Mahasiswa Se-Indonesia Tolak Beras Impor

Aksi unjuk rasa BEM-KM Universitas Andalas dimulai dengan long march dari depan Kantor Bank Indonesia. Para mahasiswa berjalan kaki sekitar setengah kilometer hingga ke kantor gubernur dan membakar boneka sebagai simbol penolakan terhadap kebijakan impor yang selama ini dilakukan Menteri Perdagangan.

PADANG - Demo mahasiswa terjadi di berbagai penjuru negeri menolak impor beras. Mereka meminta Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menghentikan impor beras. Seperti di Padang, mahasiswa membuat patung Enggar terbuat dari jerami. Mereka aksi unjuk rasa di halaman kantor Gubernur Sumatera Barat, Senin (24/09) sore.

Dalam aksi itu, patung Enggar dari jerami itu dibakar.

Aksi unjuk rasa dilakukan mahasiswa dari BEM-KM Universitas Andalas (Unand) dalam memperingati Hari Tani Nasional yang jatuh pada hari ini. Aksi dimulai dengan long march dari depan Kantor Bank Indonesia. Mahasiswa berjalan kaki sekitar setengah kilometer hingga ke kantor gubernur.

Boneka yang dibakar massa tersebut merupakan simbol penolakan terhadap kebijakan impor yang selama ini dilakukan Menteri Perdagangan. Massa menilai, sebagai negara agraris, pertanian di Indonesia harusnya menjadi sektor yang berdaulat, namun yang terjadi justru kebalikannya. “Kita menuntut pemerintah untuk membatasi jumlah impor beras, daging, dan bahan pokok lainnya,” kata Faizil Putra, Presiden BEM-KM Unand, seperti ditulis detik.com.

Menurut Faizil, Dirut Perum Bulog Budi Waseso sudah menegaskan kalau stok beras di gudang masih aman hingga akhir tahun. Namun Menteri Perdagangan bersikeras akan melakukan impor beras Satu Juta Ton hingga akhir September ini.

Mereka menuntut pemerintah untuk meningkatkan produktivitas tanaman pertanian, khususnya padi, jagung, kedele, dan tanaman sembako. Pemerintah juga dituntut untuk menjamin stabilitas harga produk-produk pertanian dan peternakan.

Para pengunjuk rasa diterima oleh Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit, yang berjanji akan meneruskan tuntutan massa ke Jakarta.

Sementara itu, di Gorontalo, peringatan Hari Tani Nasional ini, ratusan mahasiswa se-Gorontalo yang tergabung dalam aliansi mahasiswa pertanian Gorontalo menggelar aksi dengan menolak impor beras di bundaran Hulondalo Indah.

Mahasiswa menuntut pemerintah sekarang tidak memperhatikan nasib para petani. Kebijakan impor beras yang dilakukan pemerintah Jokowi-Kalla membuat harga beras di petani murah.

Muhajir, koordinator aksi aliansi mahasiswa pertanian, menyatakan, aksi peringatan tani nasional sebagai refleksi agar pemerintah lebih mempehatian petani. “Program nawa cita yang diagungkan pemerintah JK-Kalla tidak semua menyetuh para petani dan masyarakat. Banyak lahan pertanian tetapi para petani tidak mendapat untung,” ucap Muhajir.

Aksi ini selain menyorot penolakan impor beras juga meminta pemerintah untuk tidak berbohong soal masalah pertanian. “Kami melihat pemerintah sekarang sudah berbohong bahwa sektor pertanian sudah berhasil. Panen raya yang sering diberitakan semuanya adalah bohong dan penuh dengan pencitraan. Nyatanya kami anak-anak petani turut merasakan dampak dari impor dan pencitraan pemerintah,” jelas Muhajir.

Demo pun terjadi di Aceh. Ratusan gabungan mahasiswa di Lhokseumawe berdemo di Kantor DPRK Aceh Utara, Aceh. Mereka menuntut impor beras dihentikan, karena daya serap hasil panen petani di daerah masih sangat rendah. “Kami minta pemerintah untuk mensejahterakan masyarakat dengan meningkatkan daya beli hasil pertanian, kelautan, dan perikanan. Hentikan impor beras, mulai kedaulatan pangan,” kata Koordinator Aksi Musliadi Salidan kepada wartawan di gedung DPRK Aceh Utara, Senin (24/9).

Di hari peringatan tani nasional, Musliadi menyebutkan petani di daerah hinggi kini belum sejahtera. Realita di lapangan rata-rata petani khususnya di Aceh masih hidup di bawah garis kemiskinan. Seharusnya dalam hal ini eksekutif dan legeslatif harus lebih peka dan peduli terhadap nasip para petani.(*/asw)