Umrah Diawasi Ketat, Pengusaha Travel Resah

Sosialisasi Peraturan Menteri Agama Nomor 8 Tahun 2018 bertujuan untuk melindungi masyarakat dari Travel Umrah dan Haji nakal.

SURABAYA - Untuk lebih meningkatkan pengawasan terhadap travel umrah, Kemenag segera meluncurkan sistem aplikasi baru. Namanya Sipatuh (Sistem Informasi Pengawasan Terpadu Umrah Haji) yang akan diresmikan pada Selasa (17/4). Namun sistem baru ini menimbulkan keresahan di kalangan pengusaha travel umrah. Mengapa?

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, bahwa Sipatuh merupakan keseriusan Kemenag dalam mengawasi travel umrah dan melindungi Jemaah. “Dengan sistem ini, Kemenag dapat memantau proses perjalanan sampai kepulangan ibadah umrah,” ujar Menag di Jakarta.

Sistem ini berlaku bagi travel berizin atau PPIU (Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah). Semua PPIU akan mendapatkan user id dan passwords serta wajib memasukkan nama jemaahnya di dalam Sipatuh. “Semua Jemaah akan mendapatkan nomor register seperti nomor porsi dalam pendaftaran haji”, tegasnya.

Peluncuran Sipatuh menimbulkan reaksi pro dan kontra di kalangan pengusaha travel umrah, terutama yang belum berizin  (Non PPIU). Karena faktanya, travel yang melakukan penipuan terhadap jemaah selama ini kebanyakan adalah travel berizin atau PPIU. Padahal travel Non-PPIU tersebut bukan karena tidak mengurus izin, namun terbentur aturan yang rumit.

Banyak pengusaha travel menyayangkan sikap Kemenag dengan pemberlakuan Sipatuh yang terkesan tergesa-gesa ini. Mereka menganggap Kemenag hanya ingin melakukan pencitraan, menyusul terjadinya kasus travel nakal yang menipu uang Jemaah mencapai triliunan rupiah. Terlebih setelah dikritik anggota DPR bahwa Kemenag “bangsat”.

Sistem Pengawasan
Lepas dari pro dan kontra, memang banyak kelebihan dengan sistem Sipatuh ini. Lewat Sipatuh, Kemenag dapat melakukan pengawasan penyelenggaraan umrah sejak pendaftaran sampai kepulangan. Karena semua jemaah umrah dapat terkontrol kapan keberangkatannya.

 Sistem ini memuat sejumlah informasi, di antaranya, pendaftaran jemaah umrah, paket perjalanan yang ditawarkan PPIU, harga paket, pemantauan penyediaan tiket yang terintegrasi dengan maskapai penerbangan, dan pemantauan akomodasi yang terintegrasi dengan sistem muassasah di Arab Saudi.

Selain itu, Sipatuh juga memuat alur pemesanan visa yang terintegrasi dengan Kedutaan Besar Saudi Arabia, validasi identitas jemaah yang terintegrasi dengan Dukcapil, dan  Pemantauan keberangkatan dan kepulangan yang terintegrasi dengan Imigrasi.

Melalui Sipatuh, jemaah akan memperoleh nomor registrasi pendaftaran sebagai bukti proses pendaftaran yang dilakukan sesuai peraturan. Artinya, proses akhir pendaftaran adalah keluarnya nomor registrasi umrah (sejenis nomor porsi dalam pendaftaran ibadah haji). 

Dengan nomor registrasi ini, jemaah dapat memantau proses persiapan keberangkatan yang dilakukan oleh PPIU, mulai dari pengadaan tiket, pemesanan akomodasi, hingga penerbitan visa. (jur/hap)

 

  • 10 TERPOPULER
  • 10 TERBARU