Divonis 20 Bulan, Janda Menur Menangis

Swesti Yulita alias Lita menangis di samping penasehat hukumnya.

SURABAYA - Tak terima divonis 20 bulan oleh majelis hakim, terdakwa Swesti Yulita (31), janda asal Jalan Menur Gang 5, menangis di ruang persidangan, Selasa (15/5).  Isak tangis terdakwa yang juga tinggal di Jalan Dukuh Kupang Timut V, ini akhirnya berhenti setelah ditenangkan oleh penasehat hukumnya, Eko Juniarso. 

“Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Swesti Yuliati alias Lita dengan pidana penjara selama dua puluh bulan penjara,” ujar majelis hakim yang diketuai Jan Manopo, dalam amar putusannya.

Putusan Jan Manopo sebenarnya jauh lebih ringan dibandingkan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Chalidah K Hapsari, yang menuntutnya tiga tahun penjara.

Swesti merasa perbuatannya itu tak dilakukan sendiri, tetapi bersama rekannya yang saat ini masih buron. Meski berat dengan putusan itu, Swesti akhirnya menerimanya dengan mata berkaca-kaca.

Seperti diberitakan sebelumnya, Januari lalu terdakwa bertemu dengan Dina (DPO), untuk merencanakan mencuri di Toko Emas Jaya Abadi, lantai GL Blok C 10-11 BG Junction. Dengan diantar saksi Sulistyo Rini, yang bersedia mengantarkan terdakwa di toko emas milik saksi Andhi Sanjaya. 

Sesampainya di sana, terdakwa memilih perhiasan satu kalung Itali Santa Slep, 10,150 gram seharga Rp4,6 juta lebih, dan satu liontin bola mata AD Full Slep, 3,550 gram seharga Rp1,5 juta lebih. Kemudian perhiasan langsung dipakai terdakwa dan saksi Titik Rinawati membuat nota pembelian. 

Terdakwa menyerahkan kartu ATM BCA dengan nomor 6019 0025 4616 5764 kepada saksi Titik Rinawati dengan mengatakan jika pada kartu ATM tersebut ada uang sebesar Rp33 juta.

Lalu terdakwa memilih perhiasan lagi berupa 1 gelang satuan oval mata ade full silang slep, 9,9 gram seharga Rp 4,4 juta lebih. Terdakwa lalu pamitan ke toilet dengan mengenakan perhiasan dan kabur. (fer/tyo) 

 

  • 10 TERPOPULER
  • 10 TERBARU