Saksi Meringankan Sudutkan Profesor Lanny

Prof Mudzakir yang dihadirkan sebagai saksi ahli.

SURABAYA - Saksi meringankan yang dihadirkan tim kuasa hukum Profesor  Lanny Kusumawati di Pengadilan Negeri Surabaya, malah menyudutkan guru besar ilmu hukum Universitas Surabaya ini, Selasa (15/5).

Dalam keterangan di hadapan majelis hakim yang diketuai Maxi Sigarlaki,  ahli hukum pidana Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta Prof Mudzakir, menjelaskan sebuah tindak pidana dianggap selesai bila dikaitkan dengan Pasal 263 ayat (1) dan ayat (2). Yang dimaksud membuat di sini menurut ahli, seseorang yang membuat surat palsu atau memalsu surat. 

Perbuatan itu akan dinyatakan selesai jika surat palsunya sudah ada. Untuk yang Pasal 263 ayat (2) ini untuk yang menggunakan surat palsu tersebut.   “Untuk kerugian imateriil, kerugian materiilnya harus ada terlebih dahulu. Surat palsu itu harus ada untuk menimbulkan kerugian. Untuk kasus ini, adanya kerugian imateriil saja tidak mungkin,” ujar Mudzakir.

Lanjut Mudzakir, jika pemakaian surat tersebut dapat menimbulkan kerugian, maka makna kerugian ini adalah kerugian yang terkait dengan surat yang bersangkutan.  “Kalau surat itu berkaitan dengan surat keterangan sesuatu, berarti keterangan sesuatu itulah yang digunakan akan menderita kerugian. Kerugian itu prinsipnya kerugian materiil,” ungkapnya.

Mengenai kuasa materiil, lanjut ahli, ini adalah salah satu cara untuk membedakan perbuatan hukum administrasi. Atau kesalahan hukum administrasi sebagai kesalahan administrasi, dan kepalsuan dalam hukum pidana. 

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) I Gusti Putu Karmawan, juga menghadirkan saksi ahli Prof DR Edward Omar Sharif Hiariej, Guru Besar Ilmu Hukum Pidana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Karena tak datang, maka dibacakan JPU. 

Dalam keterangan bahwa dibuatnya cover notes oleh Profesor Lanny Kusumawati bisa dikategorikan sebagai tindak pidana. (fer/tyo)