Dekan UMY Sudutkan Guru Besar Ubaya

Terdakwa Prof Lanny Kusumawati mendengarkan keterangan saksi ahli DR Trisno Raharjo SH Mhum. 

SURABAYA - Keterangan DR Trisno Raharjo SH Mhum, saksi ahli pidana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), menyudutkan terdakwa Prof Lanny Kusumawati, guru besar hukum pidana Universitas Surabaya, Selasa (8/5). Saksi tersebut didatangkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) ini, dalam persidangan perkara pemalsuan akta otentik berupa cover note. 

Dijelaskan Trisno Raharjo yang juga dekan UMY di hadapan mejelis hakim yang diketuai Maxi Sigarlaki, bahwa di Pasal 263 KUHP termasuk dalam delik formil. Di mana pengertian delik formil dan materiil yaitu delik formil lebih menitikberatkan pada perbuatan, sedangka delik materiil dititik beratkan pada akibat.

"Prinsip delik formil, maka perbuatan yang sudah diwujudkan maka sudah bisa diproses," ujar Trisno.

Lanjut ahli, terkait dengan delik formil apakah seseorang yang berbuat di luar kewenangan yang diberikan oleh undang-undang, tetapi dia berbuat sesuatu dan perbuatan itu ternyata tidak sebagaimana mestinya, maka hal itu sudah melawan hukum dan menyalahi undang-undang. Di Pasal 263 ayat (1), lanjut Trisno Raharjo, bahwa inti dari delik ini terletak pada perbuatan untuk memalsukan, dan perbuatan tersebut dilakukan sendiri atau inisiatif sendiri.

"Harusnya orang tersebut menolak apa yang dimintakan tersebut dan di situlah pemahaman di dalam dirinya bahwa itu tidak boleh dilakukan. Dan ketika itu dilakukan maka masuklah unsur pemalsuan,” pungkas Trisno Raharjo.

Dalam sidang kemarin, ada yang lain. Di mana terdakwa Prof  Lanny Kusumawati yang biasanya didampingi tim kuasa hukumnya yang terdiri dari Alexander Arif, Purwanto, Abdullah Abdul Aziz Balmar, Rizal dan Mulyono, tak terlihat saat hakim membuka persidangan. "Sesuai ketentuan sidang tetap dilakukan meskipun tidak didampingi pengacara dan terdakwa juga tidak keberatan," ujar hakim Maxi Sigarlaki. (fer/tyo)

 

  • 10 TERPOPULER
  • 10 TERBARU