Perceraian di Tuban Didominasi Perselingkuhan

Mat Busiril. (Foto: Aam)

TUBAN - Kasus perceraian di Kabupaten Tuban, dalam dekade 2016- 2017 didominasi perselingkuhan atau gangguan pihak ketiga. Data Pengadilan Agama (PA) Tuban menyebutkan, rata-rata yang mengajukan perceraian disebabkan perselingkuhan dari istri atau cerai gugat.

Total angka keseluruhan disebabkan perselingkuhan sebanyak 948 kasus. Menyusul perkara disebabkan ekonomi  851 kasus, dan meninggalkan salah satu pihak 630 kasus. Angka tersebut terpaut selama 2017. 

"Memang rata-rata penyebabnya karena gangguan pihak ketiga atau perselingkuhan," ujar Hakim PA Tuban Anshor,Kamis (15/3).

Faktor tersebut dipengaruhi banyak hal. Dia menyebutkan, karena rumah tangga yang tidak harmonis kemudian melakukan perselingkuhan di luar rumah. Menariknya lagi, angka tersebut didominasi pada kaum laki-laki. Hal itu bisa dilihat dari angka cerai gugat istri dengan perkara gangguan pihak ketiga. 

Dia juga menyebutkan, secara hukum Islam perceraian memang diperbolehkan. Namun hal itu sangat dibenci oleh agama. Karena itu, tugas pencegahan perceraian harus menjadi tugas bersama. Pihaknya hanya bisa mencegah melalui perkara dalam sidang. 

"Ada yang mengajukan cerai, setelah diperkarakan terus tidak jadi, ada juga sebaliknya. Artinya, tugas perceraian harus menjadi tugas bersama," ungkapnya.

Sedangkan data keseluruhan perkara cerai selama 2016-2017 yang diterima PA Tuban mengalami penurunan. Yaitu 2016 sebanyak 3.310 kasus dan menurun di tahun 2017 sebanyak 2.746 kasus. Rincianya, 2016 cerai talak sebanyak 1.690 dan cerai gugat sebanyak 1.620 kasus. 2017 cerai talak sebanyak 1.146 dan cerai gugat sebanyak 1.618 kasus. 

Wakil Panitera PA Tuban Mat Busiril menambahkan, meski angka perceraian masih dinilai tinggi, namun berbeda di angka pernikahan. Tahun ini angka pernikahan di Kabupaten Tuban mencapai 10 ribu peristiwa. 

"Kami masih bersyukur, karena perbandingan cerai dan pernikahan juga sangat jauh, artinya perceraian bisa ditekan lagi," pungkasnya. (aam/har/be)