Puluhan Petani Gogol Demo, Lahan 2.600 M2 Dikuasai Orangtua Kades Ketimang

Warga Dusun Peganggong, Desa Ketimang menggelar demo. 

SIDOARJO -  Warga Dusun Peganggong, Desa Ketimang, berdemo, Sabtu (29/9) pagi. Sejumlah petani gogol ini mewakili 57 petani menggelar unjukrasa di lahan kosong seluas 2.600 meterpersegi. Mereka terlihat memasang spanduk dan menegaskan bila lahan tersebut sebagai miliknya.

Kordinator aksi H Syukur mengatakan, asal mula riwayat tanah ini merupakan hasil tanah tukar guling dengan warga Desa Ploso. Warga Desa Ploso menginginkan jalan menuju akses masuk desanya. Dari sebelah timur Kantor Desa Ketimang menuju wilayah desa Ploso.

“Jalan Desa Ploso itu merupakan tanah cuilan dari petani gogol warga Dusun Peganggong. Petani gogol diganti dengan lahan ini seluas 2.600 meterpersegi,” tegas H Syukur saat berorasi menjelaskan riwayat asal mula tanah di depan warga.

Pada saat ini, lahan petani 1.300 meterpersegi diganti 2 kali lebih luas (2.600 m2) dari jalan milik petani. Ketika proses tukar guling, waktu itu Pemerintah Desa dipimpin oleh H Isa Anshori (mantan Kepala Desa Ketimang), saksi ini masih hidup. Dan Pemerintah Desa Ploso waktu itu dipimpin oleh H Fatoni, juga bisa sebagai saksi karena masih hidup.

“Namun, sejak 2014 tanah ini dikuasi oleh H Asyari dengan alasan lahan itu dia membeli. Namun sampai hari ini, dia belum bisa dan belum berani menunjukkan bukti pembelian kepada petani Peganggong. Dan juga kepada siapa dia membeli itu,” beber H Syukur.

Kasus ini, lanjut H Syukur, sudah pernah dimediasi oleh Camat, menghadirkan kedua belah pihak. Namun mediasi ini selalu gagal belum ada titik temu.

Tanah yang sudah bersertifikat atas nama Mauna bin Wiriharjo dan H Fakih (almarhum) luasnya kurang lebih 5.400 meterpersegi. “Lah tanah ini merupakan tanah sisa, namun dikuasai dan diuruk oleh H Asyari dan dipondasi. Lah, petani ini tetap menuntut haknya hasil tukar guling dari warga Desa Ploso. Kalau tanah ini tidak diakui oleh H Asyari, maka tanah ini pasti akan diambil oleh warga Ploso. Karena tanah ini masuk wilayah Desa Ploso,” jelentreh H Syukur.

H Syukur ini menjabat Sekretaris Desa (Sekdes) sejak Tahun 1994. Sedangkan proses kejadian tukar guling sekitar Tahun 1990-an. Namun H Syukur berbicara ini berdasarkan fakta dan data, juga sebagai pemilik tanah gogol.

“Tapi yang jelas, pelaku-pelaku sejarah di Peganggong ini masih hidup semua, bisa dijadikan sebagai saksi,”ungkap H Syukur kepada wartawan Memorandum.

Lebih lanjut, H Syukur saat berorasi menyatakan bahwa tanah itu milik petani, belum pernah diperjualbelikan, disewakan atau serahkan kepada pihak ketiga.  

Ditambahkan H Syukur, bahwa saksi dari petani yang ikut tukar guling adalah H Sanusi Ikhsan. Kemudian H Sanusi pun menjelaskan kepada warga, bahwa dia waktu itu saat tukar guling ada berita acaranya. Saat ini berita acara itu masih belum ketemu.

“Dan kasus ini pernah dimediasi namun belum ada hasil. Namun saya yakinkan bahwa tukar guling itu ada,”tegas H Sanusi.

Sementara itu H Sanusi bersama warga sempat kaget tanah tersebut kabarnya sudah diperjualbelikan. Bahkan saat ini lahan tersebut digunakan kegiatan usaha ada drum-drum dan truk. “Ini harus pindah, mereka sewa dimana. Kita tidak pernah menyewakan. Namun karena kita juga sudah koordinasi dengan pemilik usaha ini. Pemilik bersedia pindah, drum-drumnya akan dipindah, Namun dia minta waktu. Gak apa-apa minta waktu, asalkan satu atau dua hari saja kami beri toleransi,” ujar H Sanusi.

Aksi protes ini diakhiri dengan pembacaan doa, yang dipimpin oleh H Sholeh. Setelah doa, warga langsung membubarkan aksinya.

Kades Ketimang, Atok Asyari dihubungi Memorandum melalui telepon genggamnya tidak diangkat. Namun ketika di WhatsApp Messenger, dia mengatakan masih diluar belum bisa memberikan keterangan. Kades Ketimang adalah anak H Asyari yang dituduh warga menguasai tanah pengganti tukar guling warga Ploso untuk warga Peganggong. (dar/jok/yok)