Tindak Lanjut Mediasi Warga dan CRBC, Kapolres Jombang Pimpin Focus Group Discussion

Kapolres Jombang AKBP Fadli Widiyanto memimpin Focus Group Discussion di Balai Desa Bandar Kedungmulyo.

JOMBANG - Masih belum rampungnya proses ganti rugi proyek tol transportasi Solo - Kertosono (Soker) memasuki babak baru. Ini setelah digelarnya Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Balai Desa Bandar Kedungmulyo, Selasa (25/9) pagi. Dalam agenda tersebut, hadir langsung Kapolres Jombang AKBP Fadli Widiyanto, perwakilan Disnaker Jombang, Kabag Pemerintah Sekdakab Jombang, Camat, serta Kapolsek Bandar Kedungmulyo. Termasuk pula perwakilan PT CRBC selaku pemenang tender, sekaligus PT Adhi Karya.

Dipaparkan Kapolres Jombang, apa yang digelar saat ini, merupakan tindak lanjut dari mediasi yang dilakukan di Mapolres Jombang. "Seperti yang telah disepakati bersama saat mediasi di Mapolres Jombang, kegiatan ini dimaksudkan sebagai tindak lanjut," paparnya, Selasa (25/9).

Ia pun meyakini, dengan duduk bersama antara semua pihak. Diskusi bakal lebih elegan, maksimal, serta semua yang hadir dapat menyampaikan pendapat serta berfikir dengan jernih. Akan terjadi sebaliknya, apabila menyampaikan tuntutan dengan jalan turun ke jalan. "Karena ini mencakup kepentingan semua pihak, semoga melalui diskusi yang dihadiri semua pihak saat ini. Kesepakatan terkait ganti rugi mendapatkan hasil maksimal," tuturnya.

Hasil dari pembicaraan awal, dari total pengajuan biaya pembenahan jalan yang rusak. Jika mengacu Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang diajukan oleh Pemdes menelan anggaran Rp 1 miliar. Pasca dilakukan verifikasi lapangan dengan pengecekan ruas yang rusak, alokasi tadi dipangkas menjadi kurang - lebih Rp 600 juta. "Perlu diketahui, jika alokasi anggaran yang digunakan merupakan uang dari Kementerian PU yang bersumber dari Kementerian Keuangan," beber Kapolres.

Selain prasarana jalan, tuntutan lain yang sempat diminta oleh warga saat mediasi. Yakni pembangunan musala yang kini sudah mulai tahapan pengurukan lahan. Karena ini sifatnya merupakan bangunan pengganti, usai proses apraisal (taksir lahan) PT Adhi Karya hanya dibekali budget Rp 190.000.700. Dengan fakta ini, niatan warga untuk meningkatkan Musala menjadi Masjid tidak dapat direalisasi. "Karena ini sifatnya bangunan pengganti, anggaran yang diturunkan sebatas bangunan awal. Apabila telah memasuki proses penyerahan bangunan, silahkan masayarakat melakukan renovasi sesuai keinginan," sambung mantan Kapolres Tangerang Selatan itu.

Merespons keinginan warga yang menginginkan target waktu pembangunan Musala. Sesuai dengan paparan dari perwakilan PT Adhi Karya, tenggat waktu pengerjaan yang telah ditetapkan kurang lebih 3 bulan. "Karena ini sarana ibadah, harapan kita bersama proses pembangunan dapat dilakukan secepatnya. Dan semoga juga, proses pengerjaannya tanpa ada kendala satupun," pungkas Fadli. (wan/yok)