Sungai Juwana Tercemar, Petani Stress



Petani tambak Desa Bumirejo stress melihat banyaknya ikan mati karena sungai tercemar.


PATI - Di areal pertambakan wilayah Desa Bumirejo, Kecamatan Juwana, Jumat (11/5) sekitar pukul 07.00 mendadak heboh ketika para petambak mendapati banyak bibit udangnya mati. Diduga kematian bibit udang ini akibat sungai Juwana tercemar. 

Di sungai kecil yang airnya diakses pertambakan, juga terlihat banyak udang kecil atau benur juga mati. Bahkan dalam hitungan menit, bibit udang yang ditempatkan pada air yang didapat dari sungai Juwana tersebut, langsung mati. Akibat pencemaran ini petambak merugi. Pembeli pun pulang tanpa membawa benur yang ingin dibelinya.

Suharto, seorang petani tambak di lokasi tercemar menceritakan awal mula mendapati air sungai Juwana tercemar. Ia dan teman-temannya kaget karena tokolan (benur) tiba-tiba mati tidak sampai 10 menit di tempat ini. Bahkan stress karena mengecewakan para pembeli tokolan yang sudah memesan lebih dahulu. 

“Padahal sebagian sudah memberi uang muka. Kalau benur mati karena sungai Juwana tercemar. Kalau kondisi ini tetap dibiarkan terus oleh pemerintah, bagaimana nasib kami nantinya," kata Suharto dengan raut muka sedih. 

Menurutnya, saat ini mestinya air sedang bagus-bagusnya untuk usaha tambak karena perbandingan air laut dan air tawar 1:1/5. Tapi kenyataanya, air sungai Juwana yang selama ini memberi berkah sudah mengkhawatirkan tingkat pencemarannya. 

“Apalagi di tahun-tahun mendatang. Sebagai petani, kami merasa masa depan kami terancam," tandas Suharto, petani tambak penuh kegusaran.

Hal senada dikatakan Ndoyo, seorang petani tambak yang sudah sejak tahun 1980-an, mengaku baru menjumpai pertama kali kejadian pencemaran seperti ini.

"Tidak sampai limabelas menit udang mati. Untung kami membendung airnya agar tidak mengalir ke tambak-tambak lainya. Kalau tidak dibendung, air dari sungai Juwana ini akan dipakai banyak orang dan bisa merugikan miliaran rupiah," ujarnya.

Ketika persoalan pencemaran tambak di Desa Bumirejo, Juwana ini dikonfirmasikan Memorandum ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pati, tidak mendapatkan keterangan apa-apa karena pejabat DLH Pati ke luar kota. 

Seorang pejabat DLH Pati bernama Tulus memberikan jawaban bahwa setelah selesai dari tugas di Kecamatan Cluwak, Pati akan segera melakukan pengecekan di TKP. (mam/eko/pi)