Ibu RT Tegalharjo Lihai Edarkan Uang Palsu

Petugas menunjukkan barang bukti upal. (foto: istimewa)

BANYUWANGI - Uang palsu (upal) mulai masuk Banyuwanyi, Jatim. Untung, upal yang belum banyak beredar itu terungkap berkat kejelian para pemilik toko di wilayah Kecamatan Songgon.


Upal tersebut diedarkan Siti Mariam, 53, seorang ibu rumah tangga (RT), asal Desa Tegalharjo, Kecamatan Glenmore.  Dari tangan perempuan itu, polisi mengamankan barang bukti 64 lembar upal pecahan Rp 50 ribu.

Polisi juga mengamankan uang asli Rp 115 ribu dari tangan pelaku, yang merupakan uang kembalian saat transaksi di beberapa toko. Mobil Toyota Avanza putih bernopol P 801 VQ yang dikendarai pelaku juga dijadikan alat bukti.

Kapolres Banyuwangi AKBP Donny Adityawarman menjelaskan, upal yang disita dari Mariam berasal dari seorang pria yang mengaku ustaz yang tinggal di wilayah Probolinggo.

Transaksi penukaran uang yang mirip aslinya itu dilakukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di wilayah Gending, Kabupaten Probolinggo, pada 31 Desember.

"Satu juta uang asli ditukar dengan tiga juta uang palsu. Upal yang didapat berbentuk pecahan Rp 50 ribu," ungkap Donny.

Kedok pelaku terungkap setelah tersangka melakukan transaksi dengan menggunakan upal di Desa Sragi, Kecamatan Songgon, sekitar pukul 08.00 Sabtu (6/1).

Pagi itu, dengan mengendarai mobil Toyota Avanza, Mariam bersama salah seorang putranya membelanjakan upal dengan harapan dapat kembalian uang asli. Toko yang didatangi kali pertama adalah toko sembako milik Muhammad Nurhasan, 39, di Dusun Jajangan, Desa Sumberbulu, Kecamatan Songgon.

Di toko tersebut, tersangka membeli 1 liter minyak goreng. Setelah mendapat kembalian, tersangka beranjak ke toko lain. Toko kedua yang disasar adalah milik Istikharoh, 41, warga Dusun Pertapan, Desa Sragi, Kecamatan Songgon. Barang yang dibeli berupa sebungkus rokok.

Masih di lokasi yang sama, di Dusun Pertapan Desa Sragi, Mariam kembali melancarkan aksinya dengan berpindah ke toko ketiga, yakni milik Paini, 41. Di toko ketiga, tersangka membeli 1 kilogram gula pasir. Saat itu, tersangka tidak sadar bahwa ulahnya tersebut ternyata dibuntuti korban pertama, yakni Muhammad Nurhasan.

"Jadi orang yang pertama curiga karena uang yang diterima tidak wajar. Korban sempat membuntuti pelaku sampai di toko Istikharoh dan Paini. Sempat dicegat, tapi berhasil kabur. Tapi karena korban ini hafal dengan pelat mobil yang dikendarai tersangka, lalu dilaporkan kepada petugas," jelas Donny.

Korban juga sempat meneliti bahwa uang pecahan Rp 50 ribu yang digunakan tersangka untuk belanja memiliki nomor seri yang sama. Saat itulah, para korban yakin uang tersebut palsu. Mereka pun melapor kepada aparat kepolisian.
 
"Saya mau mengumpulkan uang guna melunasi utang sewa mobil rental sekitar Rp 10 juta," ujar Mariam.

Dia mengaku, imbas dari usaha katering yang dirintis, dirinya harus menanggung utang Rp 30 juta. (jpnn)